[Freelance] Breath

Untitled

Title: BREATH

Originally writen by Syelly Kezia

Cast: Kris, Yoon Ji Hyun (oc)  // Genre: Hurt, Romance  // Rating: PG-17 // Lenght : >2000wc oneshoot

Recommended Song : Jonghyun ft Taeyeon —  Breath

Selama kau tak ada disini, bahkan di musim panas pun, hatiku akan tetap dingin. dan di musim dingin hatiku akan membeku—membuatku nyaris mati karena merindukanmu.—Syelly Kezia

No plagiarize in any form. Comments are very welcome~~ Readers yang baik adalah Readers yang meninggalkan jejak setelah membaca

PROLOG

Aku seperti kehilangan arah…

Setiap kali aku memejamkan mataku, maka yang kulihat lagi-lagi adalah bayangan wajahnya. dan sampai saat ini juga aku belum menemukan solusi untuk membuat bayangan itu menghilang dipikiranku.—Kris

Dulu semuanya baik-baik saja….

Dulu aku berkata bahwa, “Semuanya baik-baik saja,”

Tapi itu dulu, sebelum keadaan berbalik dan membiarkanku terperangkap terlalu jauh ke dalamnnya. dan bagaimanapun aku mencoba untuk mencari jalan keluar, jawabannya adalah : tidak ada jalan keluar.

Aku layaknya telah masuk ke dalam sebuah labirin dan aku tak bisa menemukan jalan keluarnya. dan disanalah aku, terperangkap ke dalam hati seseorang, dan aku tak bisa meloloskan diri lagi. tak akan pernah bisa.

Dan kini aku sadar, bahwa semuanya tidak baik-baik saja.

“Jika melupakanmu sesakit ini, maka seharusnya aku tidak pernah mengenalmu.”

Lagi—dan—lagi—aku menggumamkan sebuah kalimat yang membuatku semakin depresi. dan aku tahu bahwa seribu kali-pun aku menggumamkan kalimatnya itu; semuanya sia-sia. aku tidak sedang berada di dunia fiksi yang bisa memutar waktu kapanpun ku inginkan. ini dunia nyata! dan seberapa sering kita berdoa sekalipun, tak akan bisa membuat kita kembali ke masa lalu.

Semuanya terasa begitu konyol bagiku.

 

Aku yang mengakhiri semua ini, tapi aku terjebak ke dalamnya.

Aku katakan padanya untuk mulai melupakanku, tapi sekarang aku yang terus mengingatnya.

Aku katakan padanya untuk pergi sejauh mungkin yang bisa kaulakukan, tapi sekarang aku ingin menghirup udara yang sama dengannya.

Aku katakan padanya—jangan pernah sekalipun menyimpan memori tentang kita berdua. lupakan semua itu dan jangan kembali. tapi sekarang aku mati-matian mengingat kenangan itu, dan belajar mengingat setiap detilnya agar aku tidak mudah melupakannya.— Ji Hyun

.

.

.

.

aku mengingatnya, dan dia melupakannya

 

 

“Berjanjilah satu hal padaku”

 

“Apa?”

 

“Jangan pernah tinggalkan aku. alasan apapun itu.”

 

 

Semuanya salah…

 

Kupikir dengan melepasnya pergi dapat membuat keadaan menjadi lebih baik. ya, memang lebih baik untuknya. sedangkan aku, sungguh aku tidak baik-baik saja.

Bagaimana bisa selama ini aku berbohong pada diriku sendiri? kenyataan bahwa dia satu-satunya alasan aku hidup selama ini dan aku bilang aku baik-baik saja tanpanya? itu salah besar!!!

Kini aku hanya bagian kecil dari ingatannya. itupun kalau dia masih mengingatku. Aku ada didekatnya selama ini, tapi aku sendiri tak ingin dia  merasakan kehadiranku. alangkah baiknya jika dia tak pernah tahu aku yang selama ini di dekatnya. biarlah aku hidup layaknya bayangan, yang bisa dilihat namun tak bisa digapai.

Dia terus berkutat dengan komputer di depannya. menjadi penulis Novel pun merupakan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya. untung saja ia mempunyai bakat menulis jadi setidaknya ada hal yang bisa dilakukannya selain bernapas. tentu menjadi penulis bukanlah hal yang sepele,….ia harus merelakan jam-jam tidurnya karena deadline novelnya, tapi setidaknya ia menyukai pekerjaannya dan secara sadar ia menulis kisah hidupnya sendiri.

Ia lelah…

Ia butuh seseorang untuk menjadi tempatnya bersandar saat ia mulai jenuh. namun ia telah membiarkan seseorang itu pergi.

malam itu Ji Hyun terus berkutat dengan komputer di depannya sampai-sampai tidak memperdulikan dirinya yang meminta istirahat.

“Ji Hyun,” seseorang menepuk pundaknya. matanya memancarkan sorot kekhawatiran. “—kau butuh istirahat.”

Dia menghentikan aktifitasnya, menarik nafas dalam-dalam kamudian menghembuskannya berat. “Tak usah mengkhawatirkanku—“ujarnya sembari menatap kedua mata sahabatnya itu kemudian menarik sudut-sudut bibirnya untuk tersenyum. “—sungguh, aku tidak apa-apa.”

“Bohong,”

“Aku tidak bohong.”

“Berapa lama kau ingin membohongi dirimu sendiri,huh?” protes Sohee (sahabat JiHyun). “Kau menyibukkan dirimu sendiri dengan berbagai aktifitas yang akhinya membuat kau sakit.”Tegasnya dengan nada terluka. kemudian dia melanjutkan . “—kau melakukan ini semua agar bisa melupakannya, hah? ITU SALAH BESAR.”

“Sungguh, Sohee… aku tidak apa-apa.”

“Kau pikir aku percaya?” Sohee menaikkan nada bicaranya. “Sudah berapa kali kau katakan ‘aku baik-baik saja’ tapi aku masih tidak mempercayainya. terakhir kali kau katakan kau baik-baik saja, ujung-ujungnya kau harus dirawat di rumah sakit karena kekurangan darah. dan kau pikir kali ini aku akan membiarkannya?!”

Sungguh, dia tak ingin melihat sahabatnya seperti ini…

Sohee baru saja ingin membuka mulut, ketika Ji Hyun menunduk. “Maafkan aku..” Ucap Ji Hyun dengan nada pelan.

Sohee mengambil napas dalam-dalam—sekali lagi menatap sahabatnya dengan rasa khawatir.ia berjalan mendekat kemudian menatap matanya. “Tak perlu minta maaf. yang kau perlukan sekarang adalah istirahat. perhatikan kondisi tubuhmu.”

“Arraseo.”

Sohee menarik napas lega. baru saja ia hendak keluar dari kamar Ji Hyun ketika ia melihat sesuatu yang tidak asing lagi di layar komputer Ji Hyun.

“Wu Yi Fan?” tanyanya tak percaya. “Kau mencari informasi tentang dia—lagi?”

“Eum.” Ji Hyun mengangguk.

Ia barus saja ingin membuka mulut untuk berargumen, tapi Ji Hyun meneteskan air matanya, membuat Sohee mengurungkan niatnya dan memegang pundak Ji Hyun.

“Kau merindukannya?”

Ji Hyun mendesah. “Lebih dari sekedar rindu. aku membutuhkannya; hadir di setiap hari aku menginginkannya, bukan hanya sekedar hadir di setiap mimpiku yang akhirnya membuatku frustasi karena kehilangannya seiring datangnya mentari.”

“Lalu kenapa tidak menemuinya?”

“Itu tak akan terjadi, Sohee.” dahi Ji Hyun berkerut. “Kau tahu dia siapa sekarang? aku tidak ingin menjadi beban.” Tegas Ji Hyun.

“Lalu sampai kapan kau ingin seperti ini?” protes Sohee. “Kau hidup hanya untuk memastikan apakah dia baik-baik saja. kau menyiksa dirimu sendiri, Ji Hyun! setidaknya kau harus bertemu dengannya, bagaimanapun caranya. damn it!”

Dia memang hidup untuk memastikan apakah Kris baik-baik saja, dan ia bertahan hidup sampai saat ini hanya karena itu.

dan dia tahu betul tempat-tempat yang sering di kunjungi Kris, termasuk salah satu butik ternama di Cheom dam dong. di depan butik itu terpampang dengan jelas wajah Kris dengan senyumannya yang mempesona dan tatapan matanya yang tajam. sungguh, dia tampak sangat tampan sekarang.

Pakaian yang dipakaikan di Manequin itu juga salah satu pakaian  yang pernah di pakai Kris saat mempromosikan album barunya di Busan.

Tak sadar ia masuk ke dalam butik itu. alasannya satu… ia ingin menghirup udara yang sama dengan Kris. dan saat mendekat ke salah satu pajangan saat menyadari itu adalah kemeja yang sama persis dengan yang Kris pakai saat konfrensi pers di China.

“Kris aku merindukanmu.” gumamnya sambil menguatkan hatinya agar tidak menangis di tempat umum. tapi untunglah karena butik ini tak begitu ramai karena hanya kalangan atas yang datang ke tempat ini.

“Kau ada dimana?”

“Disampingmu,”

rasanya ia mulai gila akhir-akhir ini karena terlalu merindukan Kris sehingga ia bisa mendengar suara lembut itu lagi setelah sekian lama.

“Aku—disini.” lagi-lagi suara lembut itu terdengar dan kali ini terasa begitu nyata.

Dia menarik nafas, kemudian menoleh ke kanan.

tidak ada…

dia menoleh ke kiri.

Tidak juga.

lalu dia menoleh kebelakang.

“K-Kris? kau—“ gumamnya tak percaya.

Ingat, dia hanyalah bagian dari masa lalunya Kris.

Baru saja Ji Hyun ingin pergi, namun Kris mencengkaram tangannya kuat-kuat sebelum ia berhasil keluar dari toko itu. alhasil, ia menjerit kesakitan karena cengkraman Kris terlalu kuat.

“Arghh… sakit… lepaskan!” Pinta Ji Hyun sambil berusaha lepas dari tangan kekar yang kini mencengkram tangannya, namun Kris enggan mengabulkan permintaan yang dapat membuatnya kehilangan Ji Hyun.

“Maaf,” ujarnya. “Tapi aku tak bisa membiarkanmu pergi.” tegasnya.

“Sudah kubilang lepaskan!”

“TIDAK!” Kris balik bersikeras. “Kecuali kau berjanji tidak akan meninggalkanku.”

“Kau keras kepala sekali. kubilang lepaskan atau aku—“

“Atau kau apa?” tantang Kris

“—Atau aku akan berteriak.” ancam Ji Hyun.

“Silahkan saja,” Kris tampak tak terpengaruh dengan ancaman Ji Hyun. “Teriak sekencangnya jika kau mau, biar semua orang tahu kalau kau adalah kekasihku.”

Ji Hyun terperanjat. “Kekasihmu?” Ji Hyun terkekeh. “Aku tidak mencintaimu, Kris. ingat, hubungan kita sudah berakhir. kau lupa?”

Kris melirik sekitar. orang-orang di luar sana bisa melihat dengan jelas mereka berdua. terlalu ramai. Kris memutuskan untuk menarik Ji Hyun menuju mobilnya yang kebetulan di parkir di belakang butik ini.

Setelah dirasanya sepi, ia angkat bicara. “Atas dasar apa hubungan kita berakhir? sejak kapan hubungan kita berakhir? katakan!”

Ji Hyun menarik napas. “Sejak lima tahun yang lalu. sekarang lepaskan aku!” dan setelah mengatakan itu, rasanya ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Kris manatapnya dengan ekspresi itu lagi, dan tatapan mata tajam yang selama ini dia rindukan.

“Bagaimana bisa?” cengkraman Kris melemah seiring dengan hatinya yang semakin kalut. “Bagaimana bisa kau mengatakan itu begitu saja? kau meninggalkanku, dan tak memberi kabar sekalipun padaku, dan sekarang kau ingin aku melepaskanmu begitu saja? kau pikir aku bodoh atau apa, huh?”

kali ini Ji Hyun terdiam, mencoba menahan isakan yang makin menjadi akibat perkataan Kris.

“Kumohon,” Air mata Kris jatuh begitu saja. “Jangan pernah tinggalkan aku lagi.” akhirnya Kris melepaskan cengramannya dan detik kemudian ia memegang tangan Ji Hyun penuh perasaan. “Selama kau tak ada disini, bahkan di musim panas pun, hatiku akan tetap dingin. dan di musim dingin hatiku akan membeku—membuatku nyaris mati karena merindukanmu. apa kau tahu itu?”

Ji Hyun bungkam.

Jadi selama ini Kris merindukannya?

“Saat kau katakan untuk melupakan dirimu, menurutmu aku bisa melakukannya? jawabannya adalah tidak. sedetikpun tidak.

dan saat kau katakan untuk pergi sejauh mungkin, menurutmu aku mampu pergi menjauh darimu? jawabannya adalah tidak! … aku kecanduan, Ji Hyun—Sama seperti kecanduan narkotika yang membuatku tak bisa berhenti untuk memikirkanmu.

kau juga mengatakan untuk jangan pernah menyimpan memori tentang kita. bagaimana bisa aku tidak mengingatnya, saat hanya kau yang ada dipikiranku selama ini. bagaimana bisa?”

Ji Hyun menunduk. tubuhnya tersandar di mobil Kris. “Maaf,” sesalnya

“Tak perlu minta maaf,” Kris menghapus air mata di pipi Ji Hyun dengan lembut. “—asalkan kau tetap disisiku, maka aku akan baik-baik saja.”

Kris mendekatkan wajahnya pada Ji Hyun. menepis semua jarak yang ada kemudian menatap Ji Hyun. wajah mungil itu kembali basah akan air mata dan Kris menghapusnya.

“Aku mencintaimu Kris.” Ji Hyun menatap mata Kris. ia menatap mata dari seseorang yang ia rindukan. ada banyak yang ia ingin katakan, namun dengan kalimat itu setidaknya bisa mewakili semua perasaannya selama ini.

Kris tersenyum…. melegakan.

“Itu adalah kata-kata yang paling kurindukan selama ini. aku juga mencintaimu, dan sampai dunia berakhirpun, perasaan ini akan tetap sama.”

“Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, Kris.” ada nada penyesalan ketika ia mengucapkannya.

“Tapi kenapa kau meninggalkanku?”

“Itu karena aku harus.” Ucap Ji Hyun tegas.

“Kenapa harus?”

“Karena aku tidak ingin membagi kesusahanku denganmu. aku tidak ingin menjadi parasit di dalam kehidupanmu. setelah semua yang kupunya, baik harta maupun keluargaku pergi, satu-satunya yang ingin aku lakukan adalah tak ingin membuatmu pergi juga.

Tak masalah jika aku tak bisa memilikimu, asalkan aku melihatmu ada di dunia ini, maka itu tak masalah.” tanpa sadar air matanya menetes semakin deras, disertai isakan memilukan yang bisa di dengar telinga.

“Dengar!” Kris meraih pundak Ji Hyun. “Tak perduli seberapa sulitnya kehidupanmu saat itu, yang aku inginkan hanyalah bersamamu.  aku tak ingin menjauh darimu, aku ingin berada di dekatmu bagaimanapun kondisinya.”

“Kris…” lirih Ji Hyun.

“Tetaplah disisiku.”

“Tapi—“

“Bisakah?” Suara Kris lebih pelan kali ini.

Ji Hyun akhirnya mengalungkan kedua tangannya di bahu Kris dan menghambur ke pelukan Kris—namja yang selama ini dirindukannya lebih dari apapun. ia tak tahu perasaan apa lagi yang ada dihatinya saat ini ; campur aduk. semuanya terasa seperti permen Nano-nano yang memiliki jutaan rasa setiap kali kau memakannya, walaupun begitu ia tetap menyukainya.

Ingin sekali Kris berteriak ‘Kemana saja kau selama ini? kau tak tahu aku hampir kehilangan akal sehat ku saat kau tak ada disisiku?!!!’ namun rasa rindunya mengalahkan semua itu.

“Aku mencintaimu Kris…” ucap Ji Hyun yang tampak masih enggan melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Kris. dan saat itu juga Kris sadar, bahwa ia merasa seribu kali lebih hangat saat bersama Ji Hyun, bahkan di musim dingin sekalipun, sama seperti sekarang.

“Aku tahu,” sela Kris. “Kau memang mencintaiku…” Kris semakin mengeratkan pelukannya. “Lalu,… bisakah kau mengatakannya sekali lagi?

Ji Hyun tersenyum.

“Saranghae.” kemudian Ji Hyun melepaskan pelukannya.

Kris mengerutkan dahinya. berpikir: ada hal yang salah disini.

terbesit ide licik di pikirannya. “Aissh, kenapa aku tidak mendengarnya?” tanya Kris pada dirinya sendiri. “—coba katakan lagi?”

“Ish….” desis Ji Hyun.

Dia kesal, tapi dia tersenyum. “SA-RANG-HAE!!!”

“Ah, coba katakan lebih keras,” Pinta Kris. “—sepertinya aku tidak begitu mendengarnya.”

Dia ingat bahwa Kris suka sekali mengerjainya.

“AKU… PARK—JIHYUN,” Ji Hyun berteriak sekeras mungkin. “—MENCINTAI, WU—YI—FAN!!!”

“Kau puas sekarang?” tanya Ji Hyun

“Sedikit…” Kris menyeringai.

“Apa?!”

astaga Kris… Gadismu hampir saja kehilangan suaranya hanya karena permintaan bodohmu itu, dan itu masih belum cukup?!

“Kau belum memberiku ciuman…” Kris

“Ciuman?!”

Kris berdesis. “Astaga, apa karena kita berpisah terlalu lama, makanya kau jadi lupa caranya berciuman,huh?” Kris geleng-geleng.

“Bukan begitu mak—“

Sebelum Ji Hyun sempat melanjutkan kata-katanya, bibir Kris lebih dulu menempel di bibirnya, menciumnya dengan penuh kasih untuk beberapa detik. kemudian Kris langsung merangkul tubuh Ji Hyun ke pelukannya dan berbagi kehangatan satu sama lain.

“Sayang sekali kita harus melakukan adegan romantis ini di tempat parkir, seharusnya aku membawamu ke sungai Han atau mungkin di Namsan Tower?”

Ji Hyun dan Kris masih dalam posisinya masing-masing. “Tidak masalah.” kata JiHyun jujur.

Hari ini, semuanya kembali seperti dulu. bertatapan mata, pelukan hangat, ciuman penuh kasih dan yang lebih penting adalah melakukan semua hal itu bersama dengan orang yang kau cintai.

semuanya baik-baik saja sebelum seorang reporter tak sengaja melihat Kris bersama Ji Hyun. beberapa detik kemudian muncul segerombolan reporter yang entah datang dari mana dan langsung mengambil gambar berturut-turut.

“Itu Kris!” seru salah seorang reporter—berlari ke arah Kris diikuti segerombolan reporter lain di belakangnya..

“Sial! kenapa makhluk-makhluk astral itu selalu datang disaat-saat penting seperti ini?” gerutu Kris saat mereka mulai mengambil gambar Kris dan Ji Hyun tanpa seijinnya.

“Kris-sshi, ada hubungan apa anda dengan Nona ini?” Tanya sang reporter penasaran.

“Benar, bisa anda jelaskan siapa Nona ini?”

“Kris-sshi, bisa anda memberi penjelasan sedikit?”

Berbagai pertanyaan mengenai gadis di sampingnya dilontarkan kepadanya, sementara Ji hyun hanya berkedip-kedip saat lampu blitz terus berkedap-kedip ke arahnya.

Kris hanya tersenyum. ia menatap Ji Hyun beberapa detik ketika akhirnya dia berkata “Gadis ini? Dia kekasihku.”

-END-

FF absurd, kagak jelas, kagak bikin nangis -.-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dia ada di sana…

dengan Jas mahal rancangan desainer terkenal yang membalut tubuhnya—dia berdiri di sebuah panngung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s