Stop The Falling Rain (Chapter 1)

stop-the-falling-rain-by-fishafishy

Author      : FishaFishy

Length    : Chapter

Main Cast   :   ChoA-AoA

                Jin-BTS

                Luhan-EXO

Support Cast : Find it by Your Self

Genre     : Sad, Romance

Annyeong cingu, aku author baru disini, btw ini fanfiction pertama ku, haha… Ohiya kalau ceritanya rada gaje dan aneh, maklumin ya ^^v. NO BASHING ne ^^..

Author POV

Choa duduk disebuah cafe di bandara, menaruh ponselnya ke dalam tas. Ia terlihat berpikir lalu menyeruput cappuccino nya dan tersenyum lega. Ia telah melakukan hal yang benar. Ia yakin telah melakukan hal yang benar.

Satu jam telah berlalu saat ia kembali dari Jepang. Saat itu ia mendapat surat undangan pernikahan dari sahabatnya. Pria yang sudah ia kenal lima tahun lalu itu akan menikah. Pria yang ia cintai itu akan menikah. Tidak, pria itu sudah resmi menikah dua jam yang lalu. Di Negeri Cosplay tersebut, di Jepang.

Kejadiannya dimulai saat Choa mendapat beasiswa sekolah di Inggris. Choa sangat senang karena ia akan meraih impiannya. Impian yang sangat ia nantikan. Bahkan ia akan melakukan apapun demi impiannya. Termasuk perasaannya itu.

“Apakah itu sangat berharga bagimu ?” Tanya pria disampingnya itu lembut. Pria itu adalah sahabatnya. Luhan. Mereka sudah berteman akrab dari kecil, bersekolah di sekolah yang sama. Dari Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan saat ini mereka telah lulus dari Sekolah menengah akhirnya. “ Tentu saja itu sangat berharga bagiku, bukankah impian mu juga berharga bagimu ?” Kata Choa senang. Luhan terlihat berpikir. “Ya, sangat berharga” kata Luhan akhirnya. Lalu mereka berjalan pulang berdampingan. Seperti yang selalu mereka lakukan setiap pulang sekolah.

“Johahaeyo” Luhan bergumam pelan. Sangat pelan, sehingga hanya ia saja yang dapat mendengarnya.

“Mwo ?” Tanya Choa yang menoleh pada Luhan. Tidak, ternyata Choa dapat mendengarnya. Tentu saja Choa dapat mendengarnya. Karena mereka sedang berjalan berdampingan.

“ A…Aniyeo, aku hanya ingin berkata jangan lupakan aku saat kau sedang disana” Kata Luhan tergagap. Lalu ia merangkulkan lengannya dileher Choa. “Ayo kita pulang”.

Sebenarnya Choa mendengar perkataan Luhan tadi. Ia tahu bahwa Luhan mengatakan padanya bahwa ia menyukainya, Choa tahu itu, karena mereka telah bersahabat sangat lama. Dan saat mereka menginjakkan kakinya di Sekolah Menengah Akhir. Ada perasaan suka antara satu dan yang lainnya. Hingga saat ini, sudah tiga tahun lamanya. Dan sebenarnya, Choa juga menyimpan perasaan yang sama terhadap Luhan. Choa menyukainya. Dan tiga tahun  adalah waktu yang lama dan sangat melelahkan untuk menyimpan dan mengubur dalam-dalam perasaanya itu demi meraih impiannya.

“ Tentu saja aku tak akan melupakan mu Luhan, aku janji” Kata Choa tersenyum meyakinkan.

Kini ia berada di Inggris. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesempatan yang tidak akan datang dua kali, pikirnya. Inilah alasan mengapa ia lebih memilih impiannya daripada perasaanya saat itu, karena ia berpikir bahwa disaat umur yang seperti itu ia masih termasuk remaja labil dan akan dengan mudah melupakan perasaannya terhadap Luhan dan ia berharap saat melihatnya kembali tidak akan ada perasaan suka seperti dulu. Dan karena Choa sangat disibukan oleh study nya. Mereka tak pernah berhubungan lagi satu sama lain, dari pihak Choa maupun pihak Luhan sendiri. Sampai akhirnya mereka kehilangan kontak.

Tiga tahun kemudian saat Choa selesai dengan study nya di Inggris, ia memutuskan untuk bekerja disana dan dengan satu tahun saja Choa telah menjadi orang  yang sukses. Lalu Choa kembali dan memutuskan untuk bekerja di tanah kelahirannya, di Korea.

Satu tahun di Korea, Choa pun langsung menjadi orang yang sukses layaknya di Inggris. Banyak sekali perusahaan yang menawarkan kontrak bekerja sama dengannya. Sampai akhirnya Choa mendapat surat undangan pernikahan Luhan dengan Ayumi Ternyata Luhan menemukan pendampingnya di Negeri Cosplay tersebut. Senyum tipis tersungging di bibir Choa, namun tulus.

“Moshi moshi” Kata Choa dalam bahasa Jepang. Sekarang Ia berada di Jepang untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya itu. Tepatnya ia sedang berdiri didepan sebuah gedung yang sangat besar dan megah. Terdapat pilar pilar yang dihiasi bunga-bunga yang menambah suasananya menjadi menakjubkan, gapura yang berhiaskan bunga-bunga, Air mancur yang berkilauan, ditambah karpet merah yang panjang membentang sampai keluar gedung tersebut, membuat gedung tersebut sangat istimewa. Dan satu hal yang ia harapkan, yaitu saat melihatnya kembali, ia tidak memiliki perasaan apapun padanya. Semoga saja.

Luhan mendapati ponselnya berbunyi, ia tidak mengenali nomor telpon yang menghiasi layar ponselnya tersebut. Ia berpikir sejenak lalu menekan tombol jawab dan menempelkannya pada daun telinganya. “Moshi moshi” kata seorang wanita disebrang sana. Luhan terkejut mendegarnya,  suaranya tidak asing lagi bagi Luhan. Suara wanita itu sangat familier bagi telinganya, suara yang tidak akan pernah ia lupakan. Dan sekarang wanita itu menelponnya, ia datang. Benarkah ?. Perlahan Luhan membuka bibirnya, dengan ragu ia berkata “Choaya, kau kah itu ?”.

“Choaya, kau kah itu ?”. Terdengar jawaban ragu dari seberang sana. Choa terkejut sejenak, lalu tersenyum, ternyata ia masih mengingat suaraku. “ Bruk,,” Tanpa sengaja Choa menabrak punggung seseorang dibelakangnya.

Dan saat ia berbalik bermaksud untuk meminta maaf, ia mendapati dirinya terkejut saat melihat seorang pria yang dikenalnya tengah berdiri dihadapannya dengan ekspresi sama terkejutnya dengan Choa. Choa menelan ludah, jantungnya berdetak cepat. Namun ada sensani berbeda dengan apa yang ia rasakan. Perasaannya. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan setelah melihat Luhan berdiri dihadapannya. Walaupun jantungnya berdetak dengan cepat, tetapi detakan jantung itu berbeda dengan apa yang ia rasakan dulu saat bersama Luhan. Choa sudah tidak menyukai Luhan, benarkah ?. Tapi ia bersyukur karena saat melihat Luhan ia hanya merasakan perasaan rindu, tidak lebih dari itu.

“Syukurlah…”

“Mwoya ?” Tanya Luhan lembut. Sekarang mereka sedang duduk di taman belakang gedung tempat pernikahan Luhan akan berlangsung. Luhan mengenakan kemeja putih, setelan jas putih, dasi hitam yang menghiasi lehernya, dengan sepatu hitam yang berkilau membuatnya terlihat sempurna. Ia  sangat cocok berpakaian seperti itu. Dan terlihat sangat tampan.

“Ani, kau terlihat sangat tampan” Kata Choa jujur.

“Benarkah ?” Tanya Luhan dengan senyum yang menggoda.

“Ah, sudahlah. Bagaimana kau tahu alamatku ?” Tanya Choa penasaran. “Aku bertemu Ajumma di Korea, hebat bukan ? Lalu ia memberitahuku dimana alamatmu”. Jelas Luhan.

“Oh, Kapan kau pindah ke Jepang ?” Tanya Choa lembut.

“Tidak lama setelah kau pergi ke Inggris, Bagaimana kabarmu ?”

“Gwenchanayeo. Kau sendiri ?” Choa balik bertanya.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja” Jawab Luhan.

Hening. Tidak ada satupun dari mereka yang bicara. Hanya angin yang berhembus sejuk menerpa wajah mereka. Mereka pun menikmatinya. Udara yang segar terhirup menuju paru-paru mereka. Burung-burung beterbangan dilangit Jepang yang cerah itu. Suasana yang menyejukkan.

“Apa kau mencintainya ?” Tanya Choa ditengah keheningan.

“Mwo… ?”

“Ayumi, apa kau mencintainya ?” Ulang Choa mantap.

Luhan terdiam sejenak sebelum sempat menjawab. “…ya” Kata Luhan yang menatap lurus kedepan. Choa melihat jam tanganya. Lalu bangkit dari kursi yang mereka duduki. “Ayo, nanti kau terlambat” Kata Choa memperingatkan dan menjulurkan tangan nya pada Luhan. Luhan menerima juluran tangan Choa, ia bangkit lalu memeluk Choa seketika. “Bogoshipoyeo” bisik Luhan lembut ditelinga Choa.

Choa terkejut karena Luhan tiba-tiba memeluknya. Hangat, itulah yang ia rasakan. Sudah sangat lama semenjak Luhan tidak pernah memeluknya lagi seperti ini. Sudah lima tahun lamanya ia tidak bertemu dengan Luhan. Ia juga sangat merindukannya.  Tapi, sebentar lagi Luhan akan menikah dan menjadi milik orang lain selamanya. Itu berarti Choa tidak bisa memeluk Luhan lagi seperti ini. Jadi, ia membalas pelukan Luhan untuk yang terakhir kalinya. Lalu setelah beberapa lama, Choa melepasan pelukannya dan menatap Luhan sambil tersenyum. Tanganya menyentuh dasi Luhan, mencoba untuk merapikannya. Luhan membiarkannya dan  tersenyum melihatnya.

Setelah selesai merapikannya, Choa menunjuk bagian dada Luhan.

“Hatimu” Katanya.

“Seberapa besar lagi tempatku disana ?” Tanya Choa.

~TBC~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s