[Vignette] When I Meet You Again

Untitled-2

Title : When I Meet You Again

Author : Vera SHE.

Main Cast :

  • Kim Myung Soo [Infinite]
  • Park Ji Yeon [T-ara]

Genre : Romance, school life

Rating : PG-13

Length : Vignette

Posted Fanfiction Here and my blog

Disclaimer : The casts are belong to God, but the fanfiction is mine. Sorry for bad story.

Copyright © Vera SHE 2013

.

.

.

Park Ji Yeon menatap kosong ke jendela yang terbuka lebar. Hembusan angin mulai menerpa rambutnya yang ikal dan panjang. Terasa sangat sejuk. Rasanya ia ingin sekali merebahkan kepalanya ke mejanya dan memejamkan kedua matanya. Setidaknya, Ji Yeon bisa melupakan sejenak mengenai setumpuk tulisan yang harus dihafalnya, juga setumpuk buku yang harus ia baca. Belajar itu sungguh membosankan.

Ji Yeon menyandarkan dagunya ke buku tebal yang terletak rapi di atas mejanya. Ditatapnya meja yang penuh dengan buku dan juga kertas. Kemudian matanya melirik temannya, Bae Suzy yang sedang membaca buku. Gadis itu memang anak yang rajin. Memang pantas jika ia menjadi juara kelas. Tentunya hal itu bertolak belakang dengan Ji Yeon.

Ji Yeon menghela napasnya perlahan. Menghadapi ujian yang hanya dalam hitungan enam bulan lagi, sungguh membuat otaknya hampir tidak bisa diajak untuk berpikir jernih. Ji Yeon yang malas terpaksa harus mengikuti les privat bersama guru barunya. Ya, ibunya yang mendatangkan seorang guru privat ke rumah Ji Yeon setiap hari. Sore nanti akan menjadi hari pertama ia akan les dengan guru yang sama sekali tak dikenalinya itu.

Apakah gurunya galak? Itu yang ada di pikiran Ji Yeon saat ini. Ia tidak suka jika gurunya galak dan suka marah-marah. Bisa-bisa gadis itu tidak fokus dengan pelajaran. Yang lebih parah, nilainya bukan kian membaik, malah semakin memburuk.

Ji Yeon menegakkan punggungnya. Ia mengulurkan tangannya dan membuka lembar pertama buku tebal itu. Bahasa Inggris. Gadis itu mulai membaca tulisan yang tertulis di buku itu dalam hati, namun ia sama sekali tidak mengetahui artinya. Menyebalkan.

Sejenak, Ji Yeon menutup kembali bukunya. Membaca kata ‘Inggris’ membuat ia mengingat suatu hal yang cukup membuat hatinya sakit. Untuk pertama kalinya, ia merasa menyesal. Mungkin saat kejadian itu berlangsung, ia sama sekali tidak merasakan hal itu. Selang beberapa waktu, Ji Yeon pun mulai menyadarinya. Bagaimanapun, hatinya tak bisa berbohong.

*Flashback*

“Oh, jadi begitu? Kau membatalkan kencan kita karena gadis yang kau temui tadi siang, begitu?” Suara Ji Yeon mulai meninggi kala emosinya sedang naik saat itu. Pikirannya menjadi kalut. Tatapannya mengarah kepada pria tampan yang duduk di bangku taman sore itu.

Myung Soo —pria itu— mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia beranjak berdiri, menghampiri Ji Yeon dan mencengkram kedua lengannya. “Ji Yeon-ah, kumohon mengertilah aku! Dia hanya teman kuliah. Kami tidak ada hubungan apa-apa.”

“Oppa bohong! Bukankah waktu SMU, Oppa pernah menyukai teman sekelas Oppa?” tanya Ji Yeon yang mulai panas.

“Ji Yeon, cukup! Itu dulu. Aku tidak suka kau mengungkit masa lalu,” bentak Myung Soo. Perkataan Myung Soo sempat membuat Ji Yeon menahan air mata. Gadis itu memalingkan wajahnya, kemudian menunduk untuk menghapus air mata yang mulai bergulir dengan punggung tangannya.

“Oppa mulai mendekatiku setelah Oppa putus dengan pacarmu, iya, kan? Apa kau menganggapku sebagai pelarian?” sela Ji Yeon.

Mata Myung Soo membulat sempurna. Ia menatap sayu gadis yang berdiri di hadapannya. Air mata dan tangisannya membuat Myung Soo terdiam. Sejujurnya, Myung Soo memang mendekati Ji Yeon hanya sebatas pelarian saja agar ia bisa melupakan pacarnya yang dulu pernah menyakiti hatinya. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, Myung Soo mulai merasakan getaran asmara ketika ia bersama dengan Ji Yeon. Ia menyukai gadis sederhana itu walaupun otaknya tidak begitu menonjol di sekolah.

Sekarang, haruskah ia menjawab ‘ya’? Pertanyaan Ji Yeon sempat membuat Myung Soo berpikir beberapa menit. Apa yang akan Ji Yeon lakukan jika ia berkata jujur? Akankah Ji Yeon sakit hati?

Melihat Myung Soo yang hanya diam dalam kebingungannya sendiri membuat Ji Yeon mulai menebak-nebak. Gadis itu tersenyum menyeringai, kemudian menghapus air matanya yang membasahi pipinya.

“Benar, kan dugaanku.”

“Ji Yeon-ah, akan aku jelaskan—” Myung Soo berusaha untuk bicara, namun gadis itu mulai kesal.

“Cukup, Oppa. Aku tidak butuh penjelasanmu,” cetusnya. Ji Yeon kemudian berlari meninggalkan taman itu.

Setelah kejadian itu, keduanya tak pernah lagi bertemu, apalagi bertegur sapa. Ji Yeon merasa kesepian tanpa Myung Soo. Biasanya, pria itu selalu ada di sampingnya setiap senang ataupun sedih. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk meminta maaf kepada Myung Soo atas kejadian di taman yang terjadi sekitar sebulan yang lalu. Gadis itu terlalu emosi sehingga ia tak ingin mendengarkan penjelasan Myung Soo.

Ji Yeon membulatkan tekadnya untuk meminta maaf kepada Myung Soo. Betapa terkejutnya gadis itu ketika ia mendatangi rumah Myung Soo. Pria itu sudah dua minggu pergi ke London untuk melanjutkan kuliahnya.

Mendengar itu, Ji Yeon hanya bisa menangis dalam penyesalan yang dalam. Ia belum sempat meminta maaf, belum sempat mengucapkan terima kasih, bahkan belum sempat mengatakan bahwa ia masih mencintai pria itu.

Mungkinkah ia akan bertemu lagi dengan Myung Soo? Jika hal itu terjadi, apakah perasaan pria itu akan tetap sama?

*Flashback end*

Ji Yeon masih asyik bergulat dengan bayangan dalam pikirannya. Gadis itu tidak menyadari suara langkah yang tidak beraturan dari teman-temannya yang terburu-buru duduk ke tempat duduknya. Sekejap, suasana kelas menjadi sunyi. Tak ada lagi obrolan dan bisikan yang keluar dari mulut mereka.

Seorang pria tampan dengan pakaiannya yang rapi memasuki kelas itu. Ia melangkah dan duduk di kursi guru sambil meletakkan sebuah buku ke mejanya. Ia memperhatikan wajah-wajah asing yang masih lugu, siap menerima pelajaran darinya. Pria itu pun tersenyum simpul.

Good morning, everyone. My name is Kim Myung Soo. I’m a new English teacher. I’m from Korean but I studied in London. Nice to meet you.”

Nice to meet you too, Songsaenim.” Terdengar jawaban dengan suara yang tidak begitu serentak dari para siswa. Walaupun pelafalan bahasa inggris mereka terdengar buruk, namun mereka tetap ingin belajar. Myung Soo memperhatikan para muridnya satu per satu sambil tersenyum.

Pandangannya menangkap seorang gadis lugu yang duduk di pojok kelas dekat jendela. Gadis itu sedang menatap Myung Soo datar. Kemudian ia pun memalingkan wajahnya, kembali menatap jendela.

“Baiklah, kita mulai pelajaran kita hari ini.” Myung Soo berjalan menuju papan tulis, mengambil sebatang kapur, dan menulis sesuatu di papan hitam di hadapannya. Pria itu mulai menjelaskan tentang beberapa rumus kalimat yang digunakan dalam bahasa Inggris. Semua anak memperhatikan penjelasannya dengan baik.

Mata Ji Yeon memandang wajah guru barunya itu. Ia sendiri hampir tidak percaya bahwa itu adalah Kim Myung Soo. Pria yang dulu ia sayangi, yang selalu ada di sampingnya di saat senang maupun susah. Setelah tiga tahun ia tak pernah bertemu lagi dengan Myung Soo, sekarang pria itu kembali ke dalam hidupnya. Sungguh ia sangat merindukan pria itu.

Ji Yeon mendaratkan kepalanya ke meja. Ia sama sekali tidak fokus terhadap penjelasan Myung Soo. Yang mengganjal di pikirannya saat ini adalah, apa Myung Soo masih mengingatnya?

Ia ingin meminta maaf kepada Myung Soo atas kejadian tiga tahun lalu, tapi kapan? Kapan ia bisa mengatakan hal itu? Dan bagaimana jika Myung Soo tidak memaafkannya? Ah, tidak mungkin! Myung Soo bukan orang seperti itu.

Aaarrhh, pikiranku kacau!

Ji Yeon mengacak rambutnya dengan sebelah tangannya, kemudian menghela napasnya.

“Kamu yang sedang tidur-tiduran di sana…,” ucap Myung Soo seraya menunjuk ke arah Ji Yeon.

Perkataan Myung Soo yang terdengar dingin membuat Ji Yeon mengangkat kepalanya. Kedua tangannya dengan sigap merapikan rambutnya yang berantakan.

“Kemarilah!” lanjut Myung Soo.

Tanpa banyak bicara, gadis itu pun beranjak berdiri. Tatapan matanya tidak lari dari wajah Myung Soo. Myung Soo membalas tatapan gadis itu dengan tatapan gusar. Tatapan itu sama seperti tatapan guru yang pernah memarahinya selama ini karena tak pernah mendengar penjelasannya di kelas.

Myung Soo menyodorkan sebatang kapur. Gadis itu pun menerimanya dengan perlahan.

“Kerjakan soal itu!” perintahnya dingin.

Ji Yeon mengerutkan dahinya kesal. Bagaimana ia bisa menyuruh Ji Yeon untuk mengerjakan soal bahasa Inggris? Setidaknya ia tahu kalau sejak dulu, Ji Yeon tidak pernah bisa belajar bahasa Inggris. Apa sekarang Myung Soo ingin mengerjainya?

Ji Yeon menatap tulisan rapi milik Myung Soo yang terukir di papan tulis hitam itu. Astaga, apa ini? Jangankan cara membacanya, artinya saja Ji Yeon sama sekali tidak mengetahuinya. Otak Ji Yeon mulai berputar keras. Apa yang harus ia jawab? Ah, mungkin ia bisa menjawab asal-asalan. Setidaknya itu lebih baik daripada ia tidak menjawab sama sekali.

Ji Yeon mulai menulis. Entah apa yang ditulisnya, ia sendiri pun tidak tahu maknanya. Melihat jawaban Ji Yeon, Myung Soo hanya tersenyum getir.

Gadis itu menyodorkan kembali sebatang kapur kepada pria itu. Ia enggan menerimanya. Pria tinggi yang berdiri menghadapnya, membuat seulas senyum dingin.

“Jawabanmu salah total. Setidaknya, aku sudah menjelaskan ini tadi. Karena kau tidak mendengarkanku, lebih baik kau keluar!” perintah Myung Soo tegas.

Mendengar perkataan itu, mata Ji Yeon membulat sempurna. Ia baru saja diusir keluar oleh Myung Soo yang baru mengajar hari ini? Ia benar-benar tidak percaya. Tega sekali pria itu menghukum dirinya dengan cara seperti ini. Bahkan guru lain pun belum pernah menyuruhnya untuk keluar kelas.

Ji Yeon menatap Myung Soo kesal dan akhirnya mengambil langkah seribu untuk segera keluar dari kelas, kemudian berlari menuju balkon sekolah. Gadis itu pun berdiri di sana, memandang lurus ke depan. Tanpa sadar, ia menahan napas karena air matanya yang tengah bergulir pelan di pipinya. Sesaat ia menyadari bahwa dirinya sedang menangis. Dengan sigap pula, Ji Yeon menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

Awalnya ia ingin meminta maaf kepada Myung Soo saat istirahat atau pulang sekolah nanti. Tetapi sekarang, ia telah memberi satu hukuman untuk Ji Yeon, membuat gadis itu mengurungkan niatnya. Suasana hatinya bercampur aduk sekarang. Ia merasa sedih, marah, dan kecewa. Mungkin Myung Soo telah melupakan dirinya. Mungkin kejadian tiga tahun lalu adalah akhir dari hubungan mereka.

Myung Soo memasukkan kedua telapak tangannya lalu berjalan menghampiri Ji Yeon. Ia hanya tersenyum singkat ketika melirik wajah gadis itu. Sudah lama sekali rasanya ia tidak bertemu dengannya. Ada rasa rindu yang melekat di hatinya, namun tak berani ia ungkapkan.

“Hei, tidak mau menyapaku?” tanya Myung Soo memecahkan suasana hening. Gadis itu sama sekali tidak mengubris pertanyaan Myung Soo. Ia hanya diam sambil memalingkan wajahnya.

“Kau marah padaku, ya?” tebak pria itu. Ji Yeon langsung menoleh cepat.

“Sudah tahu kenapa bertanya?” selanya kasar. Bibirnya mengatup rapat karena kesal. Matanya menjadi merah semenjak air mata yang tertahan di pelupuk matanya.

Kedua bola mata Myung Soo yang berwarna cokelat menerawang jauh. Sejenak, seulas senyum tipis tergambar di bibirnya. Kemudian pandangannya beralih kepada gadis yang berdiri di sampingnya. “Aku menghukummu seperti ini bukan karena aku benci.”

Ucapan Myung Soo tidak dihiraukan sama sekali oleh Park Ji Yeon. Gadis itu hanya diam dan memasang wajah kecut tanpa menatap wajah Myung Soo. Awal pertemuan yang tidak menyenangkan setelah tiga tahun sebelumnya, mereka juga berpisah dengan cara yang sama. Mungkinkah Ji Yeon masih kesal padanya atas kejadian itu. Tapi, hal itu sudah lama sekali.

Myung Soo berjalan mendekati Ji Yeon dan berdiri di belakang gadis itu. Ia melingkarkan kedua tangannya, mendekap lembut pinggang ramping gadis itu. Sejenak, ia membiarkan waktu yang seakan berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.

Hati Ji Yeon merasa pelik ketika Myung Soo memeluknya secara tiba-tiba seperti ini. Ia mencoba melepaskan kedua tangan kekar pria itu yang memeluknya dengan erat. Namun, pria itu terlihat enggan melepaskannya begitu saja.

“Nanti dilihat orang lain,” ujar Ji Yeon.

“Sebentar saja. Biarkan seperti ini sebentar saja. Tak akan ada yang melihat.” Bisikan Myung Soo itu membuat Ji Yeon mengurungkan niatnya. Suara lembut yang keluar dari mulut pria itu sungguh dirindukan oleh Ji Yeon. Sudah lama rasanya ia tak lagi mendengar suaranya. Kali ini, Ji Yeon hanya berdiri terpaku, membiarkan Myung Soo memeluknya sebentar. Ada rasa damai yang melekat di hatinya saat itu.

Myung Soo melepaskan pelukannya, kemudian memutar tubuh Ji Yeon agar menghadap ke arahnya. Ia menatap sendu wajah sayu gadis itu dengan penuh rindu. Jarinya mengusap cairan bening yang masih mengalir tipis di pipi Ji Yeon. Pria itu lalu tersenyum kecil.

“Maaf. Maafkan aku untuk segalanya,” ucap Myung Soo lirih.

“Aku juga. Aku minta maaf,” balas Ji Yeon sedikit menunduk.

Myung Soo meraih dagu Ji Yeon dan mengangkat wajahnya perlahan agar ia menatap dirinya. Pria itu tersenyum simpul saat kedua mata mereka saling bertemu. Ia pun mengelus rambut gadis itu yang terurai panjang.

“Masuklah ke kelas! Ada tugas yang harus kau kerjakan,” kata Myung Soo.

Ji Yeon menaikkan sebelah alisnya. “Tidak dihukum?”

“Jadi, kau ingin dihukum? Dasar murid aneh!” gerutu Myung Soo dengan nada bercanda.

Ji Yeon mengerucutkan bibirnya, kemudian berkacak pinggang. “Kau songsaenim galak.”

Myung Soo tertawa renyah. Ia mengacak rambut gadis itu sehingga membuat rambutnya amat berantakan. Ji Yeon terlihat kesal dengan kelakuan Myung Soo. Ah, pria itu masih sama seperti yang dulu.

“Aigo, Oppa. Jangan mengacak rambutku lagi!” seru Ji Yeon. Ia pun mulai merapikan rambutnya dengan jemarinya. Pria itu sejak dulu memang suka mengacak rambutnya.

“Eit, panggil aku songsaenim. Sekarang masuklah!” perintah Myung Soo dengan nada penuh wibawa. Perkataan Myung Soo terdengar aneh di telinga Ji Yeon. Ia berjalan perlahan memasuki kelas sambil menahan tawa.

“Oh, ya? Sore ini ada waktu?” tanya Myung Soo yang seketika menghentikan langkah Ji Yeon. Gadis itu pun menoleh pelan.

“Hm, sepertinya tidak. Eomma mendatangkan guru les baru untukku. Dia akan datang setiap hari,” ujar Ji Yeon.

Myung Soo terkikik pelan. “Baiklah. Siapkan buku bahasa Inggrismu sore nanti. Kita akan mulai belajar.”

“Eh?” Ji Yeon mengerutkan dahinya saat pria tinggi itu berjalan mendekatinya.

“Aku adalah guru lesmu yang baru. Jadi, persiapkan mentalmu jika mendapat omelan dariku, arraseo?”

Myung Soo menarik gagang pintu kelas, kemudian masuk ke dalamnya. Ji Yeon masih berdiri terpaku di depan pintu. Ia sendiri masih tidak percaya dengan perkataan Myung Soo barusan. Ia adalah guru lesnya yang baru? Berarti, setelah ini, Ji Yeon akan bertemu dengan Myung Soo setiap hari, baik di sekolah maupun di rumah.

Ada rasa bahagia yang melekat di hatinya. Setidaknya, rasa rindu selama tiga tahun lalu akan terbayar semuanya. Setelah ini, ia akan terus bertemu dengan pria yang dicintainya setiap saat dan setiap waktu. Yah, walaupun ia sendiri harus mendengar omelan pria itu. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah. Toh, untuk kebaikan dirinya juga.

Ji Yeon tersenyum simpul ketika benaknya kembali mengingat saat ia masih duduk di bangku SMP. Ia masih ingat saat Myung Soo yang cerewet itu mengomelinya karena mendapat nilai buruk dalam pelajaran bahasa Inggris. Gadis itu hanya terkikik pelan. Seketika, tubuhnya bergedik saat pintu kelas tiba-tiba terbuka. Myung Soo menyembulkan kepalanya, menatap Ji Yeon dengan pandangan aneh.

“Aish, apa yang kau tunggu? Cepat masuk!” ucap Myung Soo.

Ji Yeon membalas pria itu dengan senyum terbaiknya. “Ne.”

.

.

END

14 thoughts on “[Vignette] When I Meet You Again

  1. Wah kupikir myung kagak inget sama jiyeon🙂 abis sikapnya biasa gitu pas mau hukum jiyeon, ternyata eh ternyata saat gak ada orang eh malah meluk jiyeon aigoo -_- so sweet #pletak
    eh malah jadi guru lesnya juga, ya bisa berdua-duaan lagi,
    krna mreka udh saling minta maaf artinya mreka balikan gitu?
    Jiaaaa cinta lama bersemi kembali whahah

  2. Cb crta ini dibuat oneshoot verai panjang m.
    Kan dsni gk ada kejelsan knp myungsoo pergi ke london tiba2 tanpa menjelaskan apapu ke jiyeon .
    Msa stlh 3th pisah lgsg balikan ajah …odhl cryanya bagus loh .hehehe tpi lbh bagus klo di panjangin .hahah

  3. penyesalan sllu datang diakhir -,-
    jiyeon trllu salah faham. myungpun gak bs ngejelasin secara tepat dan akurat. agak nyesek.
    yeeahh,, tapi berakhir menyenangkan:-D
    nice fanfic😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s