[ Drabble ] Her Painkiller

her painkiller

[ Drabble ] Her Painkiller
Nama : hyehoonssi
Judul Cerita : Her Painkiller
Tag (tokoh) : Lee Donghae, Choi Hye Hoon (OC)
Genre : Romance, Married Life, Angst
Rating : Romance, Angst
Length : Drabble
Catatan Author : Terinspirasi dari Music Video yang judulnya Painkiller. Pernah dipublish di elsagyu.wordpress.com

Donghae tak mengerti dengan perubahan sikap yang ditunjukkan istrinya. Gadis itu tersenyum tanpa beban setelah satu bulan lebih menghindarinya, mengajaknya duduk berpelukan di sofa santai di belakang rumahnya yang sama sekali tak pernah mereka gunakan. Dia sangat merindukan istrinya itu, namun aura aneh yang dirasakannya terlalu kuat hingga dia tak bisa mengabaikannya.

Tak menyiakan kesempatan, dia pun menarik pinggang ramping gadis itu mendekat saat Hye Hoon menelusupkan kepala diantara lehernya. Dia mengecup punggung tangan Hye Hoon yang berada dalam genggamannya, lama. Sungguh, dia sangat merindukan aroma lavender yang menguar setiap kali mereka berdekatan. Wangi yang membuat dirinya mencandu untuk menelusuri setiap jengkal kulit gadisnya yang setiap malam dilakukannya.

“ Apa kau mencintaiku?”

Gadis itu berbisik lirih, sangat lirih sehingga mungkin jika jarak mereka tak menempel seperti sekarang ini mungkin dia tak bisa menangkap apa yang diucapkannya. Dia terpaku di tempatnya, menghentikan kecupan-kecupan kecil yang di daratkannya di punggung tangan istrinya.

Donghae tak menyiapkan dirinya dengan pertanyaan spontan ini. Mungkin jika gadis itu menanyakannya beberapa bulan ke belakang, dia akan menjawab ‘ya’ tanpa keraguan. Mereka menikah bukan atas dasar cinta, itu benar. Namun Donghae tahu betul jika Hye Hoon memaksanya untuk menikah karena dia sangat mencintainya.

Berbohong. Itulah yang seringkali dilakukan dirinya jika pertanyaan mengenai cinta itu muncul. Namun, dia sendiri mulai tak nyaman dengan kebohongan yang dilontarkannya. Dulu, Donghae tak berkeberatan mengumbar kata cinta di hadapan istrinya, yang akan direspon dengan senyuman manis atau sebuah kecupan kilat di pipi.

“ Tak usah menjawab, karena aku tahu pasti apa jawabannya”.

Ini pertama kalinya Hye Hoon mengutarakan hal yang berbeda dari biasanya. Dari setahun pengalamannya menjalani hidup dengan gadis itu, biasanya Hye Hoon akan merengek padanya hingga Donghae menjawab pertanyaan itu, bukan menyimpulkan dengan nada tenang seperti ini.

Donghae tak menyanggah ataupun menampik pernyataan Hye Hoon. Dia hanya terdiam kaku di tempatnya, menikmati sensasi aroma tubuh gadis itu yang menguat, tak seperti biasanya. Sepertinya dia mulai terbiasa menghirup udara di dekat istrinya yang membuatnya nyaman. Tetapi hanya terbiasa, bukan membutuhkan. Karena dia hanya membutuhkan seorang gadis di hidupnya. Gadis yang selama ini mengisi hatinya. Gadis yang ditinggalkannya karena harta.
Gadis itu telah kembali padanya.

Inilah akar dari semua permasalahan yang dihadapinya dengan sang istri. Walaupun Hye Hoon tak pernah mengemukakan apapun padanya, ataupun melabrak gadis yang dicintainya untuk meninggalkannya, namun gadis itu bukan gadis bodoh atau tuli yang tak tahu apa-apa.

“ Ini sudah larut. Tidurlah”.

***
Ketukan pintu di kamarnya, membuat Donghae segera menutup percakapannya dengan seseorang yang berada di seberang sana. Ucapan selamat tidur dari orang itu membuatnya tersenyum singkat. Lihatlah, betapa dia sangat bahagia hanya karena hal sederhana yang dilakukan orang yang dicintainya.

Hye Hoon masuk, tanpa menunggunya untuk membuka pintu. Gadis itu tersenyum padanya dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Kantung mata istrinya jelas terlihat, dan mata coklatnya pun sembab. Kurang lebih satu bulan ini keadaan gadis itu terlihat setiap harinya. Bukannya tak peduli, namun Hye Hoon selalu mengelak jika dirinya mengajak gadis itu untuk berobat.

Gadis itu membawa bantalnya sendiri, yang katanya sudah menemaninya sejak kecil. Donghae menggeser tubuhnya ke sisi ranjang, mempersilahkan gadis itu untuk menempati ruang kosong yang beberapa lama tak dihuninya.

Tanpa bicara, Donghae merasakan tangan mungil gadis itu melingkari perutnya. Dia membalik posisinya, sehingga membuat mereka berhadapan. Dengan gerakan lembut, dia menyapukan bibirnya di permukaan bibir gadis itu. Ada rasa yang berbeda dari ciuman itu. Sisa-sisa bau obat yang terdapat di rongga mulut Hye Hoon membuat dahinya mengerut bingung.

Mungkin dia sudah mendapat resep dari Dokter, pikirnya.

“ Aku lelah…..Aku lelah mencintaimu, Oppa”. Suara gadis itu tenang, matanya pun terlihat dingin, tak menyorotkan kesedihan seperti yang biasa ditunjukkannya.

Donghae merasa jantungnya seakan berhenti berdetak saat kata-kata menyakitkan itu mengalun di telinganya. Ada perasaan perih dan tak rela menelusup di dadanya. Namun bibirnya kelu, untuk sekedar mempertanyakan apa yang membuat gadis itu lelah mengejar cintanya.

Tak lama gadis itu menarik tubuhnya mendekat, kembali melingkarkan tangan di perutnya, dengan mendaratkan kepala tepat di dadanya. Detak jantungnya semakin menggila, tanpa dia sendiri mengerti alasannya.
Mereka pun terlelap, dengan Donghae yang masih menyimpan beribu tanya tentang kejadian malam yang tak biasa untuknya.

***
Sepertinya penghangat di ruangan mereka tak berfungsi, hingga membuat Donghae merasa tak nyaman dan terbangun dari tidurnya. Dia merasa kedinginan, walaupun selimut tebal menghalau tubuhnya dari hawa dingin itu. Donghae membuka matanya pelan, dan menangkap wajah pucat istrinya menjadi pemandangan pertamanya. Sepertinya, Hye Hoon juga merasakan hal yang sama dengannya, pikirnya.

Lelaki itu menyentuh pipi gadis itu dalam gelap, sedikit terkejut karena kulit gadis itu terasa lebih dingin darinya. Dia menurunkan suhu ruangan itu menggunakan remote di samping mejanya, lalu menggesekkan kedua telapak tangannya sebelum disimpannya di permukaan pipi gadis itu.

Dinginnya tak menghilang.

Nafasnya tercekat ketika dirinya tak bisa merasakan nafas hangat yang seperti biasanya menerpa wajah tampannya. Dada gadis itu tak bergerak naik turun seirama khas orang tidur. Kemudian, Donghae menyalakan lampu utama di kamar itu untuk lebih memeriksa keadaan gadisnya.

Mulut gadis itu mengeluarkan darah, yang mengotori piyama putihnya, seprai serta pakaiannya sendiri. Lelaki itu menjerit ketakutan, dengan gerakan tak sabar dia meletakkan jarinya diantara hidung dan bibir gadis itu.

Nafasnya menghilang.

Dadanya sesak, tak pernah siap untuk kehilangan gadis itu. Teriakan sarat akan rasa sakit yang dideritanya menggema di ruangan itu. Kejadian ini bahkan tak pernah dibayangkannya di mimpi terburuknya.

Dia adalah seorang pembunuh.

Donghae menyesal, karena dia tak bisa menjaga gadisnya dengan baik. Gadis itu adalah manusia juga, yang punya batas kesabaran untuk menahan rasa sakit yang selalu dirasanya. Mungkinkah ini yang terbaik untuk gadis itu, agar seorang Choi Hye Hoon tak perlu merasakan rasa yang menyesakkan itu lagi? Namun, Donghae tak pernah menginginkan hal itu terjadi.

Mungkin perkataan orang benar, bahwa kita tak akan pernah menyadari cinta kita terhadap seseorang, sebelum kita kehilangan orang itu.

Give me your painkiller, Hoon~ah. Haruskah kita mengulang beberapa kisah cinta sejati untuk bersama di kehidupan selanjutnya?

6 thoughts on “[ Drabble ] Her Painkiller

  1. keren,
    walau cuma dari sudut pandang penulis,
    sedikit tahu perasaan yang mendera mereka berdua,
    cinta memang tak selalu berakhir bahagia,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s