Love, Past, and Now #1

viewer

 

Author :  fzkwonnie

Cast     :  G-Dragon                 as         Kwon Ji Yong

Kiko Mizuhara          as         Lee Min Ri

Lee Min Hyuk           as         Park Ho Min

Genre  :  Romance, Friendship,

Type    : Chaptered

 

Entah kenapa, akhir-akhir ini aku terkenal, bukan maksud sombong tapi aku muak dengan ini.

“Umm, apakah kamu punya seseorang yang kamu suka?” tanya seorang perempuan yang mampir saja se-enaknya ketika aku baru saja mengeluarkan kunci pagar dari kantong celana ku.

“Yah, taukah kau sopan santun? Kau se-enaknya menanyakan hal-hal yang pribadi, tapi kau ini siapa? Aku saja tidak tau kamu siapa! Pantas kah kau menanyakan hal ini? Asal tau saja kau itu jelek, punya dada dan pantat rata! Pantas kah kau jadi perempuan? Taukah kau kita ini masih sekolah di SMP? Tidak pantas untuk pacaran! Pergi kau!” Jawab ku dengan kesal.

“Maaf,” perempuan itu mulai menitikkan air mata. Yang perlahan-perlahan keluar dengan deras. Dan terus-menerus berkata maaf dan membungkukkan badannya dan dia lari begitu saja.

Sejujurnya aku sadar aku keterlaluan apalagi aku menyebutnya dada dan pantat rata. Tapi aku terlanjur kesal dengan perempuan-perempuan aneh yang dengan asal menanyakan siapa nama mu, punyakah kau pacar, mau kah kau jalan dengan ku? Sungguh aneh dunia ini.

“Ya!! Ji Yong-ah! Kwon Ji Yong!” seru perempuan itu memanggilku

“Hah? Ah, rupanya tetanggaku yang bodoh memanggilku.” Respon ku

“Heh? Kau yang bodoh. Bikin ribut tiap hari dengan membuat nangis perempuan!”

“Toh, mereka yang memulai. Sudahlah aku ingin masuk, kau juga bikin rebut berteriak seperti orang aneh.”

“Ji Yong, tunggu!”

“Apalagi, Lee Min Ri yang bodoh?”

“Heee, terserahlah, aku mau ke rumah mu.”

“Ada apa lagi? Ganggu aja.”

“Aku lupa bawa kunci, eomma ku kan kerja.”

“Yasudah, sini masuk.”

Merka ber-dua pun masuk ke rumah Ji Yong, well, mereka berdua memang teman semasa kecil, Lee Min Ri perempuan yang suka dengan rambur pendek dan suka di anggap “kakak” si Ji Yong karena badannya lebih tinggi dan agak berpenampilan “dewasa” di banding Ji Yong yang pendek dan berpenampilan kekanak-an walaupun mereka seumuran. Tapi itu sudah tidak berlaku karena sekarang Ji Yong lebih tinggi dari Min Ri.

“Hei, Min Ri bawakan minum dan snack ke kamar ku. Cepat! Jangan lelet!”

“Ya! Memangnya aku pembantumu!”

“Memang, pembantu kan numpang di rumah orang, kamu numpang dirumah ku kan sekarang?”

“Aish, kau ini.”

Aku, Lee Min Ri yang sedang menjadi-pembantu-sementara-si-bodoh-Ji-Yong pun menuruti untuk melayaninya. Aku sering berpikir, kenapa aku bisa anak se-jahil dan se-nakal dia. Padahal dulu dia tidak seperti ini, apa ini efek pubertas? Tidak mungkin ah, yasudah toh bukan urusan ku haha.

Aku pun membuka pintu dan tiba-tiba…

“Aaaaaaa, apa yang kau lakukan? Aku sedang ganti baju. Tidak kah kau tau sopan santun?”

“Terserah kau saja laha Ji Yong, toh dulu kita suka mandi bareng.”

“Itu kan dulu, bukan sekarang.”

“Ya ya, terserah kau lah. Omong-omong tadi itu siapa?”

“Siapa?”

“Itu perempuan itu.”

“Tidak tau, cuman anak kelas lain, yang tidak kenal dengan ku dan se-enaknya saja menanyakan siapa yang ku suka.”

“Ooo, jadi anak yang kamu suka siapa?”

“Tidak ada.”

“Dasar sensitif.”

“Memang kenapa?”

“Kau lelaki, tetapi ditanya seperti itu langsung marah-marah seperti ibu-ibu saja. Pikirkan perasaan orang lain dong.”

“Biar saja, toh kau juga pernah membuat seperti itu.”

“Kapan?”

“Ingat saja sendiri.”

Sejujurnya aku, Kwon Ji Yong menjadi pemarah dan membeci wanita karena sesuatu hal yang membuatku trauma, akan pernyataan cinta yang ku nyatakan dulu.

“Ya, Ji Yong.” Lee Min Ri membuyarkan lamunanku.

“Apa?”

“Aku tidur ya, dirumah ku tidak ada AC jadi numpang ya.”

“Terserah lah.”

Ok, aku lanjutkan cerita ku, jadi ketika aku kelas 5 SD dan itu usia yang masih sangat kecil walaupun beberapa teman-teman ada yang sudah berpacaran,  aku menyatakan cintaku pada seseorang yeoja, namanya Lee Min Ri, ya seperti yang kalian duga (mungkin), aku menyatakan cinta kepada teman masa kecil ku, dan dia mengatakan iya dan mulailah cerita Happy Ever After. Tapi kenyataannya??? Tidak, hidup tidak seperti yang kita bayangkan?! Mau tau dia menjawab apa? Dia hanya menjawab :

“Jangan bercanda Ji Yong, aku tau kau ingin mengerjaiku kan? Mentang-mentang aku iri pada temanku yang pacaran? Sudah lah, aku tau trik mu kok.” Dengan nada bercanda dan menjulurkan lidahnya.

Semenjak itu aku benci sekali kepada perempuan tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukan pada Min Ri, padahal ke gadis-gadis yang 2kali lebih seksi dan cantik aku bisa memarahi mereka, yaa mungkin efek cinta, walaupun aku tidak terlalu percaya tentang cinta.

Aku pun duduk di atas kasur sambil melihat muka tidur Min Ri yang bodoh, dan

“Ya, Min Ri jelek, bangun. Jangan ngiler dibantalku! Jorok.”

“Tidak bakal bodoh.” Jawab Min Ri setengah mengantuk

“Kau yang bodoh, jendela kamarmu tidak dikunci kan? Aku kekamar mu ya.”

“Jangan!”

“Kenapa kau sering buat diary tentang teman masa kecil mu yang ganteng ya? Jangan-jangan kau suka kepada ku.”

“Enak saja. Kamar perempuan tidak boleh di datangi laki-laki, apalagi laki-laki jelek dan suka mengoleksi action figure komik, mana ada laki-laki yang terkenal suka ditembak cewek, tapi suka mengoleksi action figure, kerjaannya baca komik dan marah-marah?” omel Min Rin panjang lebar.

“Terserah lah, aku terlanjut loncat ke beranda mu dan membuka jendela. Aku numpang makan masakan ibu mu ya Min Ri, di meja makan kaaaan?”

“Ya! Kau ini!”

Hah, seperti biasa si-Ji Yong itu! Se-enaknya masuk rumah, semoga saja dia tidak ingat ritualnya kalo dia ingat dia bakal mengobrak-abrik hanya untuk mencari diary atau barang-barang yang bisa ia buat untuk bahan ejekan. Untuk mencegah dia ingat aku pun loncat dari beranda rumah Ji Yong ke beranda rumah ku, maklum rumah kita sebelahan haha.

“Ya, Ji Yong!”

“Apa? Sini ikut makan daripada teriak-teriak di tangga.”

“Ish, sisakan untukku!”

“Yo.”

Ji Yong dan Min Ri makan dengan sangat lahap seperti anak kucing kelaparan, mereka mengobrol hingga ibu Min Ri datang

“Wah, tante sudah pulang?”

“Hei Ji Yong jangan sok basa basi.”

“Terserah kamu lah, antar aku pulang yuk.”

“Wae? Anter pulang? Tidak sadarkah kamu sudah kelas 3 SMP? Tidak sadarkah rumah mu disebelah?”

“Antar ke kamar mu, aku lewat jendela soalnya aku tidak bawa kunci pagar. Ini juga sudah malam, aku takut aku dikira pencuri”

“Kau berlebihan, lagian kan sudah besar. Sendiri saja.”

“Oke!  Mau ku obrak-abrik kamar mu? Kira-kira dimana ya diary mu? Jangan-jangan di laci pakaian dalam.”

“Ya! Mesum! Ok! Aku antar.”

Aku-pun mengantar si Ji Yong mesum dan bodoh keluar lewat beranda kamarku.

“Ya, Min Ri.”

“Ada apa? Mau aku antar sampai rumah?”

“Tidak mendekat lah.”

*CHU~~~~*

Bibir Ji Yong mendarat di bibirku, aku kaget setengah mati dan aku berusaha untuk pergi tapi dia terus menarik kejadian itu berlangsung lama sekali, sampai akhirnya dia melepas bibirnya dari bibir ku. Aku yang kaget hanya bisa berteriak,

“Apa yang kau lakukan?! Kau tidak tau ini ciuman pertamaku?” ujar ku ingin menangis

“Maaf” jawabnya dengan muka bersalah dan dia hanya ke kamarnya.

Yang aku bisa lakukan hanya menangis, apa yang dia lakukan? Kenapa sangat mendadak? Kenapa? Aku hanya perempuan biasa bukan murahan yang senang jika dicium oleh orang yang dulu aku suka. Ya, aku menyukai Ji Yong dari kelas 1 SMP, yah aku baru menyadari perasaanku. Tapi aku tau akan bencinya dia kepada cinta dan perempuan jadi aku berusaha melupakannya dan itu berhasil. Tapi apa? Dia tiba-tiba menciumku?!

Aku berusaha menenangkan diriku, sebelum eomma mengetahui-nya aku pun tidur dan berencana besok aku akan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.

 

*SKIP*

            Besok, waktu istirahat di SMP Jang In Nam~~

“Ya Ji Yong, kau kenapa?”

“Tidak apa, Young Bae. Urusilah dirimu sendiri, jangan urusi aku, aku bukan anakmu.”

“Cerita lah, supaya hal itu tidak membebani mu. Kau mau seperti orang lain yang bunuh diri atau menjadi psikopat karena hal sepele?”

“Kau kebanyakan nonton Criminal Minds, Young Bae. Mereka tidak ada, walaupun memang psikopat itu ada. Tapi ya bisa dibilang jarang.”

“Hei, cerita atau aku membeberkan rahasia mu?”

“Jangan! Ok ok aku akan cerita.”

“Yap! Ji Young I’m ready!”

“Semalam, aku mencium Min Ri.”

“Heeee? Mencium? Benarkah? Bukannya kau bilang sudah melupakannya?”

“Aku gagal Dong Young Bae. Aku gagal melupakannya”

“Dan setelah kau menciumnya, kau apakan dia? Menyatakan perasaan mu, Ji Young-ah?”

“Tidak, aku meminta maaf dan pergi pulang.”

“Sudah?”

“Yap, Sudah Dong Young Bae, yang suka penasaran.”

*SKIP*

            Aku takut untuk pulang, aku takut untuk bertemu Ji Yong. Aku tidak tau harus berkata apa, untunglah aku berebeda kelas dengannya, entah bagaimana kalau aku sekelas dengannya.

Aku yang tidak punya tujuan pulang, walaupun ada tapi ini bukan saat yang tepat, dan aku-pun memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota Seoul entah kenapa aku juga tak tau. Aku tidak pernah keliling kota Seoul walaupun aku tinggal disini, maklum aku anak rumahan, dan aku bukan lahir disini. Aku lahir di Jepang, aku tinggal disini karena appa ku Korea tapi eomma ku Jepang. Dan sekarang mereka bercerai, dan aku tinggal berdua dengan Ibu.

Perutku lapar. Dan aku tidak bawa uang banyak, hanya 5000 won hanya cukup untuk membeli roti seharga 1000 won, susu atau air 2000 won, sisanya ongkos kereta. Menyedihkan. Aku memakan roti ku di bangku taman, memandang pepohonan dan jalan, yaaa disini cukup damai untuk menentramkan hatiku yang sangat kacau balau ini. Semoga dengan kejadian semalam aku berharap bertemu namja yang 100 kali lebih baik dari Ji Yong. Setidaknya mirip Kyuhyun Super Junior, haha.

 

*BRUUUUUK*

Seorang namja yang berlari seperti di kejar setan menubrukku, dan kau tau? Makan siang ku jatuh tak karuan. Aku bersiap-siap untuk memarahinya dan,

“Maaf, maafkan aku. Aku sedang dikejar seseorang.”

Cling, aku terpesona oleh tampang imut-nya. Aku hanya terdiam melihatnya dan tidak jadi memarahinya. Dan aku malah berkata,

“Oh jadi begitu. Jadi siapa namamu?”

“Ho Min, Park Ho Min. Dan kau?”

“Lee Min Ri.”

“Kau sekolah di SMP Jang In Nam?”

“Ya, dan kau?”

“Aku di SMA Jug Ib Han.”

“Kau anak SMA?”

“Ya, dan aku tidak percaya kau anak SMP”

“Wae?”

“Dari postur mu yang tinggi, tidak seperti anak SMP. Oh, makan siang mu berantakan karena ku, boleh aku mentraktir mu? Untuk ganti rugi.”

“Oke, gomawo oppa, sudah ingin mentraktir ku.”

“Gwenchana, toh aku yang salah.”

Aku dan Ho Min berjalan sambil berbincang-bincang tentang diri kita, dan percakapan itu? Sangat lancar, dan nyambung. Tidak seperti aku dengan Ji Yong yang selalu ribut tiada henti. Di café pun kami juga menyukai hal yang sama, setelah berbincang-bincang dia mengantar ku ke stasiun dan mengatakan hal yang tidak terlalu terduga,

“Min Ri.”

“Ya?”

“Boleh kah aku meminta alamat e-mail mu?”

“Oke, ini. LeeMinRi@seoultower.com

“Terima Kasih, untuk e-mail, begitu juga dengan hari ini.”

“Tak apa, oppa. Justru aku yang berterima kasih.”

*SKIP*

            Cih, kenapa si Min Ri tidak pulang juga? Sekarang pukul 7 malam, tidak biasanya dia keluyuran, kalau ke perpustakaan atau toko buku juga tidak sampai selarut ini. Cih, padahal aku ingin menanyakan PR ku.

Ah, itu dia! Aku bergegas memasuki kamar dan membawa buku pr. Akan ku kageti dia. Dan ketika dia membuka pintu,

“Ji Yong, tidak kah kau sadar tindakan mu itu? Se-enaknya masuk ke kamar ku, pulang sana.”

“Hei, tidak kah kau bisa berbaik hati? Aku menunggu mu dari pulang sekolah unutk menanyakan PR fisika ini, eh ternyata jam segini baru pulang, untung ibu mu pulang jam 10 malam. Coba kalau tidak kau akan di marahi habis-habisan.”

“Ya mama Ji Yong aku tidak akan melakukannya lagi, PR fisika dari Pak Cha? Bukannya gampang? Sini ku lihat.”

“Gampang? Apa katamu? Hei, otakku dan punyamu berbeda. Kau otak kutu buku sedangkan aku otak cowo keren.”

“Keren katamu? Sini ku jelaskan.”

Min Ri tidak bereaksi apa-apa setelah peristiwa ciuman kemarin, apa dia kena Alzheimer, hilang ingatan? Tak apalah, justru karena dia seperti itu, sangat menguntungkan ku, karena bisa seperti semula lagi.

“Hei, Ji Yong kau paham tidak? Jangan ngelamun.”

“Hah? Iya aku mengerti. Hmm, Min Ri…”

“Apa?”

“Kau ingat kejadian kemarin?”

“Yang mana? Tidak sepertinya.”

“Oh.”

Ji Yong pun keluar dari kamar ku. Sejujurnya aku ingat, sangat ingat bagaimana dia menciumku tanpa rasa bersalah, ya walaupun dia meminta maaf tetap saja. Apalagi dia menanyai mu dengan nada yang biasa, seolah-olah kejadian kemarin itu biasa sangat biasa.

*DRRRT DRRT*

Handphone ku bergetar, ku raih handphone dan kulihat ternyata dari Park Ho Min. Wow, pikirku dia orang yang sangat perhatian. Baru saja beberapa jam mengenal dia sudah menanyaiku apakah aku selamat sampai rumah. Sepertinya dia menyukai ku? Akan kah ini jodoh. Tidak mungkin.

Aku hanya menjawan pesan dari Ho Min dengan kata “Ya, terima kasih sudah menghawatirkan ku.” Dan aku dan Ho Min saling mengirim pesan, dan kita membahas dari yang serius hingga yang lucu, dan itu membuatku lupa akan kejadian Ji Yong.

Kenapa Min Ri tidak ingat? Pasti ada yang sesuatu. Aku beranjak dari kasur menuju ke beranda-ku. Dimana aku tidak sengaja mendengar si Min Ri berbicara dengan diri sendiri, tentang seorang namja, bernama Park Ho Min dari SMA Jug Ib Han.

Apa? Ho Min si keparat itu? Bagaimana preman itu mengenal Min Ri? Apakah gara-gara dia Min Ri pulang malam? Ah, ini tidak beres, sungguh tidak beres.

 

 

Jadi, apa hubungan Ji Yong dan Ho Min? benarkah dia itu keparat yang di kenal Ji Yong?

Tunggu di Chapter selanjutnya.          Jangan lupa komen, kasih kritik dan saran juga ^^

One thought on “Love, Past, and Now #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s