Grow a day older together #9

grow a day older together

Author                         :  @Marwahaha (my twitter follow yah nti mention untuk follback)

Main cast                     : Lee Donghae (C), Lee HyukJae (OC)

Shin chae kyeong (OC) and many more

Genre                           : romance,hurt,angst

Rating                          :PG

Length                         : chaptered, series

Copyright                     : heewah.wordpress.com

 

 

Part 9, “ The  ugly truth”

31st March 2012

“aku percaya takdir yang interaktif. Aku percaya semua perjalanan hidup adalah sinema. Darah adalah darah. Tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti dalam sakitmu’’

                                                  Π*π*π*π*π*π*π* Π

Wanita itu selalu percaya bahwa hidup takkan pernah membiarkan-mu berlama-lama dalam zona nyaman.  Ia mensyukuri apa yang ia punya saat ini. Termasuk kehadiran Lee Hyuk Jae dan keluarganya yang begitu menyayanginya. Ibarat paket komplit yang Tuhan berikan di saat ia benar-benar dalam keadaan terpuruk.

Malam ini tiba-tiba saja lain dari biasanya. Shin Chae kyeong. Yeoja ini baru saja bermimpi buruk. Mimpi yang sudah lama tak hadir. Kini hadir kembali. Menyergapnya. Membuatnya bangun dengan nafas terengah-engah, memburu, keringat dingin yang mengucur tanpa henti, dan jantungnya berdetak luar biasa cepat.

Ia berdiri di pagar balkon kamarnya. Memandangi langit malam kota busan. Tujuannya berdiam dibalkon bukanlah melihat malam yang indah. Ia hanya ingin menjernihkan pikirannya.

Mimpi itu benar-benar menghantuinya. Jika dipikir mengapa ia bisa-bisanya membuat skenario ini dengan suaminya kini. Yah skenario bahwa Jong Hyun adalah anaknya bersama Hyuk Jae. Bagaimana bisa mertuanya yang telah menganggapnya sebagai anaknya sendiri, ia tipu.

Mimpi itu. Dalam mimpinya ia melihat mertuanya yang marah besar dengan kebohongan tersebut. Betapa mertuanya kecewa terhadapnya. Tapi anehnya saat mimpinya tersebut ada seorang pria yang mendekapnya. Yang menenangkannya dari ketakutan. Bukan pria yang kini selalu tidur bersamanya. Tapi pria yang telah dua tahun tak ia jumpai.

Pria yang selama ini tak pernah berani ia sebut namanya. Pria yang seharusnya menjadi suami dan bapak dari anaknya. Dan jika semuanya berjalan seperti seharusnya. Ia pasti takkan pernah tidur dengan di hantui perasaaan bersalah. Mungkin ia akan tidur dalam dekapan hangat dan tentu saja dengan rencana membuat adik untuk Jong Hyun.

Ketulusan— ia rasa itu sudah lama hilang dalam dirinya. Ingin sekali ia bertanya apa ketulusan itu benar-benar ada didunia ini?. Tetapi, baginya bisa hidup dengan rasa aman untuknya dan juga anaknya adalah sudah lebih dari cukup. Entah mengapa mimpi itu benar-benar membuatnya meresapi setiap detik yang ia telah lalui.

Apa salahnya? Apa ia telah melakukan kesalahan dimasa lalu sampai ia tak bisa hidup baik tanpa perasaan bersalah? Apa Tuhan tengah menghukumnya? Tapi dimana letak salahnya? Selama ini ia hanya hidup berdasarkan nalarnya? Ia merasa bahwa selama ini ia hidup dengan memilih. Memilih opsi yang  memang Tuhan persembahkan padanya. Apakah ia mengambil opsi yang salah?

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Lamunannya tiba-tiba saja buyar. Seseorang mendekapnya dari belakang. Sontak tubuhnya segera membalik terkejut. Walau ia tahu siapa yang akan mendekapnya malam-malam begini jika bukan suaminya sendiri.

“Wae keurae? Mengapa kau ada diluar sayangku? Hmm?”. Ditatapnya suaminya yang ia yakini masih belum sadar sepenuhnya.

Ia memeluk suaminya erat. Sangat. “oppa?”

“waeyo, chagi-ya?” dielusnya kedua pipi yeoja itu. Perlahan dan pasti air mata chae kyeong mengalir.

“oppa..” hanya kata itu lagi yang keluar dari bibir chae kyeong. Hyuk jae membenamkan wajah chae kyeong didadanya. Mengelus punggungnya. Hyuk Jae tak tahu pasti apa yang terjadi dengan istrinya. Tapi ia akan membiarkan istrinya menangis dahulu, baru menanyakan penyebabnya.

Cukup memakan waktu yang lama memang sampai akhirnya tangisnya benar-benar mereda. Hyuk Jae ternyata cukup sabar dalam menanti istrinya berhenti menangis. Bagaikan ibunda yang menimang anaknya agar kembali tenang, seperti itulah Hyuk jae menanti chae kyeong berhenti menangis dan kembali stabil.

“waeyo chagiya?” akhirnya Hyuk Jae bertanya kembali.

“Oppa..aku bermimpi buruk!” penuturan istrinya membuat Hyuk Jae tergelak. Istrinya bahkan bukan lagi anak remaja. Hanya karena mimpi buruk bagaimana bisa menangis begitu histeris pikirnya.

“itu hanya mimpi buruk sayang!”

“Arra, tapi ini lain oppa. Dalam mimpi itu. Segalanya terungkap!”

“maksudmu apa sayang?” hyuk jae mulai tegang

“Dalam mimpi itu eomonim marah besar terhadapku. Ia marah karena mengetahui bahwa Jong Hyun bukan anakmu, bukan darah dagingmu.oppa!”

“kau mulai melantur yang tak jelas. Chagi-ya!. Sebenarnya apa maksudmu?”

“berhenti berpura-pura tak mengerti oppa!” kali ini chae kyeong sedikit menaikkan nada bicaranya.

Ia kesal. Ia benci merasa tertekan sendiri. Ia benci ketakutan yang ia miliki. Jika ketakutannya jadi kenyataan maka ia dan Jong hyun lah yang pasti akan menanggung akibatnya. Tak masalah jika hanya dirinya. Tapi tidak dengan anaknya. Anaknya yang bahkan tak tahu apa-apa.

“dengarkan aku, chae kyeong-ah apapun yang terjadi nantinya—‘’ omongan hyuk jae terhenti oleh suara ketukan pintu kamar.

“Eomma, appa! Jong Hyun ingin masuk!” teriak seorang bocah dari luar ruangan.

Hyuk Jae beranjak bangun, melihat jam di dinding kamar yang ternyata telah menunjukan pukul lima pagi. Membuka pintu melihat bocah itu masuk ke dalam kamarnya tergesa-gesa karena rindu. Yah rindu seorang bocah, yang penuh semangat di dini hari.

“Appa?” ucap Jong Hyun seraya membentangkan tangannya. Hyuk Jae merespon cepat. Ia tahu apa yang bocah itu inginkan. Ia membawa bocah itu kedalam gendongannya. Mengecup kedua pipinya, lalu berlanjut pada kening bocah tersebut dan terakhir bibirnya. Membawanya keatas ranjang. Beginilah aktifitas mereka setiap pagi bercanda, sebelum benar-benar memulai aktifitas lain.

Tetapi pagi ini menjadi pagi yang sensitif bagi seorang Shin Chae Kyeong. Senda gurau Hyuk Jae dengan Jong Hyun selalu ia lihat setiap pagi dan selalu ada turut serta ia didalamnya.

Ia merasa sesak dibagian dadanya, firasatnya mengatakan kebersamaan ini takkan berlangsung selamanya. Entah esok, lusa atau mungkin setahun kemudian segalanya akan berubah. Tawa anak itu bersama Hyuk Jae takkan bisa selamanya ada. Ia tahu takdir takkan selalu searah dengan keinginannya.

Air mata yang perlahan mengalir, membuat anak sungai dipipinya. Sang bocah menghampiri ibunya tercinta, yang tengah duduk diranjang. Biasanya saat ia bermain bersama ayahnya sang ibupun akan ikut mengelitiki-nya. Membuatnya tak bisa menahan tawa.

“eomma?” Hyuk Jae diam melihat pemandangan tersebut. Chae kyeong, menghapus air matanya cepat. Tak ingin anak dan suaminya tahu bahwa ia menangis.

“eomma, uljima. Ada Jong Hyun dan appa disini. Eomma jangan menangis!” terharu dengan ucapan sang anak. Anak berusia dua tahun-pun bisa sangat peka terhadap perasaan manusia.

“ne. eomma takkan menangis lagi!” chae kyeong membawa sang anak kedalam pelukannya. Hyuk Jae-pun ikut memeluk mereka. Pelukan yang hanya sebentar tapi sangat bermakna. Biarkanlah ia menjadi brengsek. Lagi dan lagi pikirnya. Biarkanlah ia memanfaatkan seseorang yang menyayanginya dengan tulus selama ia bisa.

Biarkanlah jika memang nantinya Tuhan akan memberikan ganjaran yang lebih banyak lagi kepadanya

Di dunia ini dimana seorang martir mendapatkan tempat yang istimewa’. Mungkin itulah penggambaran hidupnya saat ini. Karena sekalipun ia ingin merubah keadaannya ia tak bisa. Ia tak mampu.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

07th april 2012

“eomma! Appa irreona!” cecar Jong Hyun di pagi hari. Hyuk Jae dan Chae Kyeong sama-sama lupa, mengunci pintu tadi malam dan jadilah sekarang jong hyun berada diatas badan mereka yang masih berbaring pulas.

“Eomma, Appa irreonayo!” Jong Hyun benar-benar bersemangat pagi ini. Hyuk Jae mengangkat anak tersebut kemudian menidurkannya, diantara tubuhnya dan istrinya tanpa bersuara.

“Appa!” seru Jong Hyun. “Appa irreona, tadi imo telepon. Ia akan mengajakku jalan-jalan ke seoul!”

Hyuk Jae dan Chae Kyeong langsung membuka mata mereka, mendengar penuturan bocah tersebut. Seingat mereka. Mereka telah menaruh telepon ditempat yang tak bisa dijangkau anak tersebut. Mengingat anak tersebut selalu memencet nomor asal dan yang jelas selalu membuat tagihan bulanan telepon mereka membengkak.

“Bagaimana kamu bisa mengangkat telepon dari imo, Jong Hyun-ah?” tanya chae kyeong.

“aku. Tentu saja naik dengan kursi!”

“mworagu?” ujar chae kyeong dan hyuk jae bersamaan dengan sedikit berteriak. Tentu saja karena terkejut. Keduanya langusng merubah posisi mereka menjadi terduduk. Memusatkan perhatian kepada anak tersebut.

“kenapa Appa dan Eomma harus berteriak?”

“Mianhae. Tapi naik-naik seperti itu sangat bahaya Jong Hyun-ah. Bagaimana jika kamu terjatuh?” ujar chae kyeong.

“Mianhae” ujar Jong Hyun, memeluk eommanya dan mengecup pipinya lalu ia juga memeluk Appanya dan melakukan hal yang sama.

Anak ini selalu tahu bagaimana menaklukan emosi kedua orang tuanya. Walau ia masih berusia balita. Ia selalu tahu bagaimana merayu kedua orang tuanya, agar tak marah terhadapnya. Dan kedua orang tuanya tentu saja langsung luluh.

“Arraseo. Kau mandi dengan appa. Dan eomma akan membuatkan kalian sarapan. geurigu appa akan mengantarkanmu ke rumah imo!” seru chae kyeong.

“Ne eomma. Appa kajja!” Jong hyun turun dari ranjang menarik tangan Hyuk Jae. Anak ini benar-benar anak yang mengagumkan pikir Hyuk Jae.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Seoul, Korea

11th April, 2012

“hidup akan menyerap apa saja yang diam. Takkan membiarkan-mu hanya menjadi penonton. Hidup-pun takkan membiarkanmu berada  dalam perasaan suka, dan senang selamanya. Sesekali mungkin kau harus sakit dan jatuh”

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Mimpi itu menjadi kenyataan. Bukan mimpi indah yang diinginkan terwujud jadi nyata. Tapi mimpi dimana skenarionya terbongkar.

Saat itu semuanya terungkap, ketika anaknya pergi jalan-jalan ke seoul bersama sang imo dan mengalami kecelakaan mobil beruntun. Anaknya tak sadarkan diri dirumah sakit. Membutuhkan banyak darah. Darah yang bisa membuat sang anak bertahan ditengah regangan nyawanya.

Sialnya bank darah di kota sebesar kota seoul sedang mengalami kekosongan stok untuk golongan darah A rhesus negatif dan kenapa pula sang anak harus memiliki golongan darah sama seperti appa’nya. Inilah hal tak pernah ia duga akan terjadi.

Tetapi sebagai seorang ibu tentu saja Shin Cha Kyeong akan melakukan apapun, termasuk pergi menemui pria tersebut. Dan ia pun pergi, tak perduli jika ia harus menjatuhkan harga dirinya demi anaknya apapun akan ia lakukan. Dan ia tahu hal buruk lain akan menimpanya.

Menemui pria tersebut seakan meregang nyawa. Walau yah anaknya selamat, karena pria tersebut bersedia mendonorkan darahnya tanpa ia harus bertekut lutut. Dan anaknya kini sudah sadarkan diri.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Lalu tepat setelah kepulangan donghae yang menyumbangkan darah. Ibu mertuanya menamparnya. Kenyataan terungkap, pria yang mendonorkan darah tersebut adalah ayah biologis bocah tersebut. Sakit memang. tapi, ia yakin ini tak sebanding dengan apa yang mertuanya alami. Sakit dibohongi selama dua tahun, oleh menantu yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.

Drama hidup-pun tak selesai sampai disitu. Pergi menemui donghae berarti timbul masalah baru, ia yakin donghae takkan melepasnya begitu saja. Walau ia telah mengatakan kepada donghae bahwa ia telah bersuami. Tapi ia tahu donghae pun pasti akan bertanya-tanya siapakah bocah ini?

Benar saja setelah insiden ditampar mertua. Esoknya namja bernama Lee Donghae-pun datang dan suaminya pun hadir disana. Segalanya bertambah buruk. Diluar per-kiraannya.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Malamnya kedua namja tersebut sudah, dibebaskan dari kantor polisi seoul. Dan hanya diberi peringatan ringan.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

“Oppa!” ucap chae kyeong kaget. Sudah seminggu suaminya absen kerumah sakit. Yah setelah pertengkaran tersebut. Dan kini pria tersebut hadir disana dengan lingkaran hitam diarea sekitar mata dan juga tubuh yang tampak sedikit lebih kurus dari biasanya.

Chae Kyeong bertanya-tanya dalam hati apakah karena dirinya pria ini menjadi demikian.

“chae kyeong-ah!” Hyuk Jae berjalan menghampiri chae kyeong memeluknya erat. Mengusap rambutnya seakan berusaha menyalurkan sesuatu.

“Oppa selama ini oppa kemana saja? Mengapa tak pernah datang Jong Hyun menanyakan-mu oppa?” tutur chae kyeong yang masih berada dalam dekapan pria tersebut.

“mianhae!” sulit sekali rasanya untuk berucap.

“oppa wae keurae?” istrinya tahu Hyuk Jae bukanlah tipikal orang yang akan mengucapkan kata maaf dengan mudah, jika saja tak ada kejadian yang membuatnya tertekan.

“eommaneun –“

“wae oppa? eomma pasti membenci-ku sekarang! Tapi oppa jebal jangan tinggalkan aku dan Jong Hyun! Aku akan meminta maaf pada eomma sesudah Jong Hyun sehat!”

“hajima! Jangan meminta maaf pada eomma! Ini bukan salahmu seutuhnya!”

“oppa, jangan katakan kau akan meninggalkan aku dan Jong Hyun! Oppa jebal!” chae kyeong terisak, begitu pula dengan Hyuk Jae mereka kini, tengah duduk di sofa kamar rumah sakit. Saling berpelukan menangis bersama.

“Jong Hyun harus tahu siapa ‘appa’ biologis-nya. Chae Kyeong-ah!” chae kyeong menangis semakin menjadi-jadi.

“Andwaeyo! Oppa!” ucapnya disela isak tangisnya.

“ia harus tahu. Cepat atau lambat! Seperti yang kau lihat kebenaran itu harus selalu diungkapkan, jika tak ingin terkena karmanya!”

“oppa, kenapa? Kenapa? Kenapa takdir selalu mempermainkanku?. Setelah dahulu aku diusir oleh orang tuanya. Sekarang oppa-pun akan meninggalkanku. Dan bagaimana jika Jong Hyun aku beritahu siapa ayahnya yang sebenarnya, bagaimana jika anak itu juga meninggalkanku? Oppa otteohke?” tangisnya pun meledak. Perasaan yang jarang ia suarakan. Ketakutan yang selama ini selalu ia pendam tumpah-ruah sudah. Bercampur isak tangis dalam pelukan sang suami.

“tak ada yang meninggalkan dan takkan ada yang ditinggalkan”

Apakah sang martir masih bisa hidup istimewa?. Atau lebih tepatnya masih bisa mendapatkan hak yang istimewa?

TBC

3 thoughts on “Grow a day older together #9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s