Grow a day older together #8

grow a day older together

Author                         :  @Marwahaha (my twitter follow yah nti mention untuk follback)

Main cast                     : Lee Donghae (C), Lee HyukJae (OC)

Shin chae kyeong (OC) and many more

Genre                           : romance,hurt,angst

Rating                          :PG

Length                         : chaptered, series

Copyright                     : heewah.wordpress.com

Part 8 “A glimpse of the story”

Akan ada hari dimana kamu menjadi terobsesi dengan seseorang. Bukan karena dia tipe-mu. Gadis itu! Wajahnya-pun biasa saja. Tak ada yang spesial tapi mungkin itulah hati dan mungkin itulah apa yang orang biasa sebut cinta.

Saat itu seandainya, aku tidak dalam waktu luang. Seandainya mood-ku sedang dalam keadaan buruk. Seandainya bukan ia yang menyampaikan presentasi grup-nya. Seandainya hari itu tak ada rapat. Seandainya hari itu tak ada produk yang harus segera diluncurkan. Dan segala bentuk andai yang lain-lain. Yang membuat sinkronisasi pertemuan-ku dengan dirinya tak ada.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Hari itu adalah dua bulan pertamanya berkerja diperusahaan ku. Sudah ku katakan tak ada yang spesial dalam dirinya. Tapi dunia-ku yang biasanya hanya hitam-putih dan monoton. Perlahan-lahan berubah menjadi penuh warna.

Begini terkadang aku memandangi dunia yang membosankan bagaikan menonton pertandingan baseball dalam TV 14” yang hanya memiliki satu channel dan mengulang siaran yang itu-itu saja. Dan dengan gambar hitam-putih yang jika antena-nya terkena angin sedikit saja maka akan jadi gambar penuh semut.

Hari itu si TV 14” berubah dalam hitungan detik tanpa ku pinta. Menjadi Smart-TV seperti yang orang-orang agungkan saat ini. Duniaku jadi lain. Segala macam acara menjadi spesial dan selalu ingin ku simak.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Ia hadir saat itu dalam rapat pengajuan proposal team-nya. Ia maju kedepan membuat kami semua  mau tak mau harus mempusatkan diri padanya. Ia cantik hanya sampai batas itu saja tak lebih. Aku jujur. Tubuhnya sedikit gemuk berisi. Dan ia adalah perwakilan dari team-nya untuk mempresentasikan produk terbaru yang team-nya buat.

Dua jam setelah rapat tadi, aku masih belum bisa memfokuskan diri sepenuhnya. Sedikit shock. Yang aku tahu ia bukanlah pegawai unggul jadi sangat jarang aku memperhatikannya. Walau ia sering terlihat dalam rapat-rapat. Lalu Seakan hadir sebuah misi dalam diriku. Ada yang harus aku cari. Segera saja aku meminta cv-nya pada sekertarisku.

Nama yeoja itu Shin Chae kyeong.

Hari ini jadi hari keberuntungan-ku. Jadwal ku kosong dan biarkanlah aku bermain-main sedikit saja.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Wanita itu kini sedang mempresentasikan produk team-nya. Seorang diri, tak ku izinkan siapapun masuk keruangan-ku. Awalnya ia terkejut saat beberapa temannya ingin ikut masuk tapi segera ku larang. Aku hanya menginginkan ia seorang yang mempresentasikan produknya sekalipun ini merupakan kerja team-nya. Wajahnya lebih pucat lagi dari biasanya. Mungkin karena rasa terkejut dan gugup yang bersatu-padu dan menghasilkan wajah pasi tersebut.

Aku diam membiarkan ia terus berbicara tentang produknya. Dan baru 10 menit presentasi berjalan tubuhnya tiba-tiba saja lunglai. Dan terjatuh di lantai. Apa rasa kejut dan gugup yang bersatu bisa segini dahsyatnya kah? Dan membuat seorang yeoja terkapar? Atau apakah aku telah membuatnya ketakutan?

Aku menepuk pipinya perlahan. Satu jawaban ia pingsan. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Aku membopong tubuhnya keluar. Permainanku terhenti. Tapi ada satu hal yang aku syukuri dan aku berharap ia masih ‘single’. Ia harus jadi milikku.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

At Busan Hospital

“ne, uisa-nim! Saya wali dari pasien bernama Shin Chae kyeong!” jawabku cepat. Bahkan sebelum dokter tersebut menyelesaikan kalimat tanyanya.

Dokter tersebut memerintahkan-ku mengikutinya. Ia membawa-ku keruang kerjanya, seakan-akan ada hal yang penting yang ingin ia bicarakan tentang gadis ini.

“apakah anda suaminya?”

“ne? animnida”

“Dasar anak muda. Seharusnya kalian menikah dulu baru punya anak!” ucap dokter tersebut yang seakan menghardikku untuk sesuatu yang tidak aku mengerti arah pembicaraannya, mengapa tak katakan saja langsung kondisi sebenarnya.

“maksud anda? uisa-nim?”

“Ny. Shin chae kyeong hamil. Selamat!” dokter tersebut menjulurkan tangannya ingin menjabat tanganku. Aku segera menjulurkan tanganku walau aku belum yakin dengan ucapannya.

“Anda harus menjaga kesehatannya usia kandungannya baru memasuki 7 minggu. Masih lemah. Harus dijaga dengan baik!”. Aku hanya mengangguk

Siapa namja tersebut? Mengapa chae kyeong bisa hamil diluar nikah?

Sang Dokter berusaha melepaskan tangannya, aku jadi kikuk sendiri. Aku bangun dan membungkuk undur diri. segala macam pertanyaan berkelabat dibenakku. Belum berhasil mengenal wanita itu lebih dalam, kini satu masalah datang. Tapi aku Lee Hyuk Jae maka apapun yang ku inginkan harus bisa ku miliki.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Sang mentari mulai menunjukan ke-eksistensiannya melalui tirai-tirai jendela yang masih tertutup rapat. Mencoba menerobos masuk. Seakan memberi pertanda bahwa hari tak lagi gelap. Siang akan tampak. Hari sudah berganti. Dan itu artinya aku sudah semalaman suntuk menjaganya.Ini edisi perdana-ku sebenarnya. Aku bukanlah tipe yang akan berkorban untuk seseorang. Jadi Shin Chae kyeong harus jadi milikku. Sebagai imbalannya.

Ia bangun. Yah, Wanita ini karyawan di perusahaanku yang tengah hamil 7 minggu tanpa seorang suami. Bangun. Ia sedang berusaha sadarkan diri. dan aku sedikit grogi. Aku menahan napas sesaat dan beranjak bangun dari duduk-ku mendekat ke arah tirai dan membukanya. Bukan karena aku ingin. Hanya saja ini mungkin bentuk pengalihan dari rasa gugup yang aku rasa saat ini.

“Sajangnim” ia bersuara. Aku yakin ia terkejut mengapa aku bisa berada disini.

“Ne. ireonasseo!” ucapku dan sekarang aku tak gugup lagi. Aku menghampirinya memegang keningnya, mencoba menyalurkan bentuk perhatian. Kekeke

“ne. apa sajangnim yang membawa saya kemari?” tanyanya gugup.

“ne. aku yang membawa-mu kemari. Shin chae kyeong-sshi! Siapa ‘appa’ dari anak yang tengah kau kandung?”

“maksud anda sajangnim?”

“kamu hamil dan siapa yang menghamili kamu?”

“ye? Ah, kekasih saya sajangnim”

“jika demikian maka kamu harus mengakhiri hubungan kamu dengannya!”

“ne? waeyo?”

“karena kamu. Karena kamu hamil dan saya yang membawa-mu ke rumah sakit dan semua orang berpikir saya adalah bapak dari anak itu!” keningnya mengeluarkan keringat. Aku rasa ia gugup. Kamu akan masuk kedalam perangkap-ku shin chae kyeong.segera setelah beberapa kalimat lagi ku ucapkan.

“ saya adalah seorang presdir ternama, shin chae kyeong! dan kamu adalah karyawan yang telah merusak image-saya. Sekarang semua orang mengira saya telah menghamili anda. Jadi anda harus tanggug jawab!.” Wajahnya ditekuk tak berani menatap-ku. jelas beban ada dalam dirinya.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Yeoja itu tinggal dirumahku. Kami pergi ke kantor catatan sipil di pusat kota Busan. Membuat akta nikah kami. Sampai sekarang aku tak tahu siapa ayah dari si-cabang bayi tersebut. Jujur saja aku tak ingin tahu siapa dia.

Terkadang chae kyeong berusaha memberi tahu-ku. Tapi aku benar-benar tak ingin tahu. Biar saja bagiku itu masa lalunya dan sama sekali tak penting. Walau anak yang dikandungnya bukan darah dagingku. Yang jelas aku hanya katakan padanya. Apa yang sudah jadi milikku takkan ku biarkan seorangpun menyentuhnya. Termasuk ayah biologis anak tersebut. Jika sampai itu terjadi aku akan berbuat nekad. Ucapku tegas padanya.

Lantas bagaimana dengan orang tua-ku dan orang tuanya?. Ternyata ayahnya tak tinggal di negeri ini. Dan Aku hanya bisa bertemu ayahnya via webcam. Dan reaksi appa-nya sih senang-senang saja malah bersyukur karena chae kyeong ada yang menjaga.

Lalu orang tuaku pada awalnya sama sekali tidak setuju.  Karena yeoja ini masih belum jelas asal-usulnya. Tapi setelah aku katakan bahwa aku menghamili chae kyeong. Orang tua-ku mau tak mau setuju. Pernikahan kami dilakukan dengan sederhana. Aku dan chae kyeong sih sebetulnya malas merayakannya tapi, demi menjaga image-ku dan image perusahaan jugs. Maka harus dilakukan perayaan sebagai bentuk formalitas.

Aku juga meminta chae kyeong berhenti dari pekerjaannya. Awalnya ia menolak kemudian, ibuku-pun turun tangan. Ibu  menginginkan chae kyeong tinggal dirumah saja. ‘Jangan berkerja!’ Ibu juga mengatakan bahwa ini demi menjaga si- cabang bayi. Chae kyeong hanya bisa pasrah saat ibuku yang meminta. aku terkekeh geli. Sadar bahwa yeoja ini adalah yeoja yang keras kepala tapi begitu dihadapan ibu, ia tak bisa berbuat banyak.

Tak hanya disitu ibu menginginkan kami tinggal bersama dengannya. Tapi kali ini aku menolak cepat. Ku katakan bahwa kami ingin hidup mandiri. Dan segala macam argumen lain yang aku keluarkan agar ibu mau tak mau menerima. Akhirnya ibu pasrah tapi ibu bilang seminggu sekali kami harus menginap dirumah. Kami hanya mengangguk setuju.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Beberapa bulan berlalu…

Yeoja ini benar-benar menunjukan pesonanya sekalipun ia tengah berbadan dua. Dan aku benar-benar berenang di dalam lautan pesonanya yang maha luas. Aku ikan yang tak pandai berenang maka jadilah aku tenggelam di laut pesona yang ia miliki.

Aku kira pernikahan kami akan dingin dan aku harus berjuang untuk mendapatkan perhatiannya. Tapi ternyata tidak. Yeoja ini tak pernah menutupi dirinya kepadaku.

Kemudian hubungan yeoja ini dengan orang tua-ku dan noona-ku pun tak elaknya membuatku terkejut. Pertama noona-ku membuat segala macam aturan untuknya. Dari aturan pola makan ibu hamil sampai baju yang layak ia kenakan saat menemaniku menghadiri acara-acara penting. Yah seperti bertemu dengan banyak relasi. Yeoja ini menurut tanpa protes.

Kedua ibu menerapkan aturan-aturan kolot yang aku rasa sudah tidak perlu dilakukan lagi di jaman modern. Entah  mengapa Aku yakin aturan itu takkan membuat chae kyeong dan janinnya sehat, tapi malah akan membuat mereka berdua stress.

Saat aku tanyakan pada chae kyeon apakah ia, merasa terbebani dengan ini semua? Dan ku katakan aku bisa menghentikannya jika ia mau.Ia menggeleng cepat dan ia bilang bahwa ia baik-baik saja.

Saat aku desak lagi ‘kenapa ia justru terlihat senang dengan aturan ibu yang menurutku kolot?’ Dan  ia bilang ‘karena sudah lama! Aku merindukan sosok seorang ibu dan itu ada dalam diri ibu-mu!’ aku terhenyuk dan bersyukur. Walau di awal aku rasa aku hanya akan bermain-main dengannya kurasa sekarang takkan lagi. Karena sudah bukan saat-nya lagi bermain. Permainan usai. Kehidupan sebenarnya dimulai!.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Sore ini aku benar-benar merindukannya. Seakan sudah lama tak berjumpa. Padahal setiap hari ia selalu ada disekitarku.

“chae kyeong-ah neon oddiya?” tanyaku saat sampai di-apartemen kami.

“nan yeogi oppa!” sahutnya yang ternyata ia ada didapur. Aku memeluknya dari belakang.Melingkarkan tanganku diperutnya yang besar.  Usia kandungannya sudah memasuki usia 7 bulan dan tentu saja perutnya besar.

“Oppa! aku sedang memasak!” rajuknya. Tapi aku tetap dengan posisi yang sama.

“Arrayo! Aku mohon biarkan seperti ini. Dua menit saja!” bujukku. Ia diam. Kemudian mematikan kompornya. Memegang tanganku yang berada diperutnya, Melepasnya. Segala pertanyaan berkecamuk mulai dari, mengapa pelukan pun tak bisa aku dapatkan? Dan banyak lagi yang lain dan tiba-tiba saja ia berbalik menatapku intens. Seakan bisa menebak apa yang tengah ku pikirkan tentang sikapnya saat ini.

Kedua tangannya menangkup di kedua pipiku, menarik wajahku mendekat dan ia mengecup bibirku.

“apa terjadi sesuatu dikantor?” tanyanya perlahan. Aku rasa ia benar-benar memahamiku dengan caranya. Memang benar ada yang tak beres saat dikantor dan membuatku sedikit stress. Tetapi  aku tak menjawabnya.  Kemudian ia mendekatkan wajahku kepadanya dan mencium bibirnya. Aku rasa sudah saatnya shin chae kyeong. Aku tak bisa lama lagi menunggu-mu.

Diluar dugaan ia juga merespon ciumanku. Baiklah kami berlanjut di ranjang. Yakin-ku.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Setelah aktifitas tadi. Kami menghabiskan waktu diranjang membicarakan banyak hal. Ia bercerita tentang masa kanak-kanaknya. Bagaimana ia kehilangan sosok seorang ibu diusia kanak-kanaknya. Dan bagaimana ia menghabiskan masa remajanya di negeri orang bersama ayahnya. Dan betapa ia bersyukur bisa bertemu dengan ibu-ku dan menjadi menantunya. Lalu iapun bercerita bahwa ia selalu menganggap dirinya sang dandelion, yang diterpa angin sebelum sempat orang lain melihatnya menjadi bunga mekar.

Hari ini segalanya benar-benar lain. Berbeda dari biasanya. Takkan ada lagi tembok pembatas ataupun jurang diantara kami. Segalanya perlahan namun pasti akan melebur menyatu.

“Oppa” panggilnya yang sukses membuyarkan lamunanku

“ne?” ia mendekat ke arahku. Menaruh lengannya diatas dada bidangku. Menarik nafasnya dalam-dalam.

“oppa, aku tak pernah mendengar-mu mengucapkan satu kata yang sudah lama ingin sekali aku dengar. Jadi terkadang  Aku selalu mengatakan kepada diriku sendiri. Lebih tepatnya meyakinkan diri sendiri—

tak apa jika seandainya oppa tak bisa mengatakannya, ku pikir mungkin aku memang belum layak atau bahkan takkan layak mendapatkannya. Tapi aku ingin mengatakannya padamu oppa. Mungkin seumur hidupku aku takkan bisa mendengarnya dari mulutmu oppa, jadi biarlah kau yang mendengarnya dari mulutku, oppa saranghae , geurigu gumawosseoyo oppa!”

Tubuhku membeku. Selama tinggal bersamanya aku kira kata-kata itu, takkan pernah terucap dari bibirnya. Aku salah, aku rasa aku selalu memiliki persepsi yang salah tentangnya. Aku kecewa karena persepsiku selalu saja salah mengenai dirinya.

Aku diam. Tubuhku benar-benar kaku. Respon tubuhku benar-benar buruk hanya karena beberapa kata yang ia ucapkan barusan.

“nado saranghae Shin chae kyeong” ucapku terbata. Aku merasa seperti seorang pengecut. Menyadari bahwa selama ini perasaanku bukanlah obsesi semata. Ternyata selama ini memanglah cinta, karena jika obsesi untuk memiliki chae kyeong seutuhnya. mungkin aku akan memerintahkan chae kyeong menggugurkan kandungannya.

Inilah  hatiku seutuhnya. Dimalam yang bertabur bintang yang melengkapi keindahan malam kami.

Chae kyeong menatapku tak percaya. Matanya berkaca-kaca “gumawo” ucapnya tapi tak terdengar.

Aku mendekatkan wajahku menciumnya tulus. Bukan kamu yang harus berterima kasih, tapi aku. Aku  berterima kasih kepadamu sudah menyadarkan-ku. Terima kasih sudah menerima-ku yang egois ini.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

“oppa!” ia mendorong tubuhku. Menghentikan ciuman kami. “wae?” tanyaku mengangkat sebelah alisku.

“oppa! Aku rasa bayinya akan segera keluar!”

“mwo? Tapi kan kamu baru tujuh bulan?”

“nado molla! Oppa…sakit!”. Aku bergegas bangun memakai bajuku. Aku melihat banyak cairan didaerah kakinya. Mungkin memang akan segera keluar.

“oppa, sakit,….!” Jeritnya sedikit tertahan. “arrasseo! Kita akan kerumah sakit!”

“oppa gendong aku! Cepat!” ucapnya manja. Setelah memakaikannya baju juga tentunya.

Bukankah ia tengah menahan rasa sakit. Bagaimana bisa ia bertingkah manja. Tak ada waktu menanggapi, aku hanya bisa menurutinya saat ini. Panik! Tentu saja. Aku segera mengendongnya membawanya kerumah sakit.

TBC

2 thoughts on “Grow a day older together #8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s