Grow a day older together #3

grow a day older together

Author                         :  @Marwahaha (my twitter follow yah nti mention untuk follback)

Main cast                     : Lee Donghae (C)

Shin chae kyeong (OC) and many more

Genre                           : romance

Rating                          :PG

Length                         : chaptered, series

Part 3 “moving out or moving in”

July, 2009

“Lee donghae!” panggilku lantang saat aku masuk kedalam ruangannya. Dan kalian tahu apa yang ia lakukan. Ia sedang bercumbu dengan seorang karyawan magang. Hal seperti ini sering donghae lakukan tapi, aku baru kali ini melihatnya melakukan hal seperti ini diperusahaannya lebih tepatnya didalam ruangannya. Dan Kehadiranku  jelas membuat mereka berhenti.

Sikaryawan segera keluar dari ruangan setelah berhasil merapikan bajunya. Aku melihat kearah donghae  dan raut wajahnya seperti terkejut dengan kehadiran-ku.

“ wae, geurae?” tanyanya dengan suara yang sedikit dipaksakan. Aku tak tahu mengapa? Mungkinkah ia takut aku melapor pada Lee sajangnim?. Tenang saja aku masih setia kawan.

Aku menghampirinya dan duduk dihadapannya. Aku melihat noda lipstik dikerah kemejanya, benar-benar permainan yang tidak hati-hati, pikirku. Bagaimana jika sehabis ini ia harus meeting?. Tidakkah itu menjatuhkan image-nya? Sebagai seorang chaebyeol? NEOMU BABO.

“aku akan berhenti! Aku akan segera mengurus surat pengunduran diriku?” ucapku langsung to the point.

“Mworagu?” tanyanya terkejut. Aku terkekeh kena kau lee donghae.

“aku lelah! Seperti yang kau dengar Lee Donghae. Aku akan segera mengundurkan diri!” jelasku.

Manik matanya, menatapku tajam. “Andwae!”

“wae andwae?”

“Kamu tidak akan bisa berkerja ditempat lain selain disini!”

“Aku memiliki skill diatas rata-rata Mr. Lee! Tak ada yang perlu dikhawatirkan!” ucapku meyakinkan

“nado arra! Bukan itu masalahya!”

“keureom mwoga?” tanyaku ini seakan berjalan menyebalkan.

“ karena aku membutuhkan kehadiran-mu, nyonya Shin chae kyeong!”

“Ne?” tanyaku tak mengerti.

“ Jangan berhenti! Kamu itu sudah aku anggap, sebagai yeo-dongsaeng-ku sendiri!” ucapnya sedikit menurunkan intonasi.

“Ne, gumawoyo! Tapi aku akan tetap berhenti mr.Lee! aku lelah disini! Aku butuh suasana baru” kataku seraya beranjak bangun, dan sedikit membungkuk hendak pamit. Menganggapku dongsaeng.

Akankah segalanya masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Aku rasa baik ia atau-pun aku pasti tahu jawabannya.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Aku bangun agak siang dari biasanya, hari pertama menjadi pengangguran. Maka aku harus mulai berhemat. Tak tahu harus lebih mana yang didahului mandi atau sarapan. Aku tahu tak ada yang perlu dilakukan terburu-buru hari ini. Menikmati setiap detiknya. Ingin berbaring lebih lama diranjang-pun bukan masalah saat ini.

Terdengar suara ketukan pintu, siapa orang yang datang pagi hari begini. Dan bagaimana ia tahu bahwa aku sedang berada dirumah?

“nuguseyo?” tanyaku seraya menyambar kenop pintu dan membukanya.

Lee Donghae dihadapanku

“annyeong chae kyeong-ah!” sapanya dan tersenyum hangat.

“jigeum mwohaneun goya?”

“ikut sarapan di-apartemen-mu! Hah, sudah ku duga kau baru saja bangun tidur. Benar-benar bau! Kau mandilah dahulu” ucapnya mendorong tubuhku masuk agar ia bisa ikut masuk.

Aku menuruti apa yang ia katakan. siapa tahu mungkin ia akan mengajak-ku makan diluar.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Vatos restaurant

Itaewon, Seoul

Ternyata tidak sia-sia menuruti perkataannya. Ia mengajakku sarapan diluar. Ia membawaku ke sebuah restoran mexico di daerah itaewon.

“Lee donghae-shi, mengapa hari ini anda tidak pergi berkerja?” tanyaku memulai percakapan setelah hidangan datang. Dan ia hanya merespon dengan mengetukan garpunya dikeningku.

“Ouch!, yak!” ringisku dan mengusap keningku.

“mianhae!” cengirnya. “siapa tahu setelah ini, kau akan jadi pintar! Dan ingat ini adalah hari minggu!” jelasnya menyebalkan!

Baiklah lee donghae, saat ini kau bukan bos-ku lagi, aku takkan lagi sopan terhadapmu!

“chae kyeong-ah! Neol bogosipoyo!” ucapnya lirih. Aku menatapnya tajam. Lelucon apa yang coba ia buat.

“mwo?” kataku sebari menggetok kepalanya dengan garpu.

“Yak!” aku tergelak senang, seakan dendam ku akan terselesaikan satu persatu.

“sebegitu senangnya-kah?” tanyanya, aku hanya bisa mengangguk dan melanjutkan tawaku.

Tiba-tiba saja namja itu menarik tanganku dan membuatku berhenti terbahak. Ia menarik tanganku, membuat tubuhku condong kearahnya dan ia juga mendekatkan wajahnya. Dan aku merasakan sesuatu menempel dibibirku. Empuk dan lembut.

Spontan aku mendorong tubuhnya, menjauh. Suasana menjadi canggung. Aku berusaha menetralkan nafasku yang memburu. Degup jantungku jadi tak karuan.

“chae kyeong-ah!” ragu aku menatap wajahnya. Kupastikan wajahku berubah warna.

“stay with me please! In my apartement!” pintanya.

“tinggal dengan-mu  untuk jadi budakmu? Begitu?” pertanyaan yang terlontar begitu saja.

“aku tidak tahu, apa saja yang sudah terjadi saat aku jauh dari sisimu, chae kyeong-ah. Perasaanku terhadap-mu masih seperti seorang oppa terhadap yeo-dongsaengnya!”

Pasukan oksigen ke paru-paruku tiba-tiba saja terasa menipis, manik mataku sulit sekali untuk fokus pada objek dihadapanku ini.

“apakah seorang oppa juga masih mencium bibir dongsaengnya yang sudah beranjak dewasa?” ada jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya aku bisa menimpali ucapannya, yang terasa sedikit menyakitkan. Saat aku dan donghae masih kanak-kanak kami memang sering berciuman, walau hanya saling menempelkan bibir.

Aku bangun dari duduk-ku rasanya ingin lari, terlalu takut. Terlalu banyak hal yang ku takutkan akan terjadi. Aku berjalan cepat keluar restaurant. Aku tahu aku terlalu mendramatisir, dan aku memang pengecut.

Donghae mengejarku ketika didepan restaurant menarik tanganku. Merengkuhku kedalam pelukannya.

“aku takut!” ucapku disela-sela isak tangis.

“gokjong hajima seyo! Aku akan selalu ada untukmu! Takkan kemana-mana!” ucapnya.

Aku tidak tahu mengapa,aku menjadi manusia yang begitu labil di saat-saat seperti ini. Dan kali ini biarkanlah aku menaruh hatiku untuk perjudian hidup ini.

August, 2009

Aku tidak tahu tepatnya sudah berapa minggu, aku tinggal dirumah Lee Donghae dan sampai saat ini, Aku masih berstatus pengangguran. Selama tinggal di apartemennya yang mewah. Donghae memfasilitasiku dengan berbagai hal yang aku inginkan dan membuatku merasa lebih dari cukup.

Sebagai manusia yang cukup tahu diri. Aku memutuskan untuk melakukan segala pekerjaan rumah dengan tanganku. Awalnya donghae menolaknya dan aku katakan, aku tidak mau tinggal disini Cuma-Cuma. Akhirnya setelah perdebatan panjang ia setuju.

Terkadang jika sifat chaebyeol-nya sedang kambuh, lee donghae melarangku keluar seorang diri. Walau itu hanya pergi ketoko buku yang terletak beberapa blok dari apartementnya. Ia bilang ia mengkhawatirkan-ku. Dan berbagai macam argumen yang ia keluarkan yang mengatas-namakan keselamatanku.

Lalu Ia bilang ia akan mengantarkanku dan aku menunggu-nya diapartemennya, bak seorang satpam dan setelah 3 jam menunggunya iapun datang. Dan mood-ku sudah hancur saat, itu. Seharusnya dari awal aku tahu hal seperti ini akan terjadi. Ia melontarkan berbagai macam alasan yang sama sekali tak ingin aku dengar. Aku pergi meninggalkan ia yang masih membual dan membanting pintu apartemen dengan kencang.

Dan aku memutuskan takkan lagi minta izin padanya. Lee Donghae menyebalkan!.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Suatu ketika saat aku sedang asik-asiknya membaca novel di kamar. Donghae menghampiri-ku merebut bukuku dan berkata “sudah saatnya tidur”. Aku tidak protes karena saat, melihat raut wajahnya yang lelah. Aku yakin ia sedang tertekan.

Aku hanya mengangguk. Donghae memelukku menaruh kepalaku di-dadanya. Kemudian tiba-tiba saja ia bercerita

“Kamu tahu? setelah kepergian-mu yang tanpa pamit. Aku masih saja datang kerumah-mu. Siapa tahu ternyata kau tidak pergi dan hanya bersembunyi dariku, karena aku suka usil padamu. Kamu, maksudku wajahmu sering hadir dalam mimpi-ku. Aku senang setidaknya aku masih bisa melihatmu walau dalam mimpi. Mimpi dengan rasa sayang didalamnya. Betapa anehnya hati-ku saat itu yang ikut hadir dalam mimpi”

Ia menghela nafas, aku ragu apa ia akan melanjutkan ceritanya. Ingatan manusia bak samudera , timbul-tenggelam, naik-turun di permukaannya.tanpa diduga.

Ia memelukku erat. Aku hanya diam terpaku ingin sekali bertanya apa perasaannya saat ini masih sama, seperti dahulu. Tapi aku pengecut.

Donghae mengecup keningku, lalu berbalik aku menatap punggungnya. Ragu haruskah memeluknya. “donghae-ah!” ucapku sebari menarik kaos oblongnya. Aku ingin sekali berada dalam dekapannya.

“ne?” tanyanya dan berbalik. Aku menatap wajahnya, menemukan manik matanya dan mencium bibirnya perlahan dan segera melepasnya. Tapi donghae menahan tengkukku melanjutkan ciumanku.

Perjudian hidupku sedang dipertaruhkan. Dan Biarkanlah kali ini aku memasang kepercayaan-ku sebagai taruhannya.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

2 thoughts on “Grow a day older together #3

  1. knp aku seperti ngeliat diriku sendiri dgn sahabat yg aku suka..yg selalu anggap aku adikny..aku jd takut dgn endingny..mian..terbawa suasana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s