Grow a day older together #2

grow a day older together

Author                         :  @Marwahaha (my twitter follow yah nti mention untuk follback)

Main cast                     : Lee Donghae (C)

Shin chae kyeong (OC) and many more

Genre                           : romance

Rating                          :PG

Length                         : chaptered, series

 

Part 2 “Our History”

1995, Seoul korea

Aku tinggal didaerah distrik di pinggiran kota seoul. Appa berkerja di salah satu instansi pemerintah yang khusus meneliti dan membudi-dayakan tanaman.

Appa  juga menjadi seorang dosen di universitas negeri di seoul, karena dedikasi appa terhadap lingkungan dan pendidikan begitu besar. Pemerintah memfasilitasi segala jenis hal yang appa butuhkan, dari mulai untuk penelitian yang sering appa lakukan sampai kebutuhan sehari-hari. Membuat kami sekeluarga hidup serba berkecukupan.

Diusia tujuh tahun, aku sudah paham bahwa hidup tak pernah selalu beramah tamah. Appa yang disibukkan dengan pekerjaannya. Dan tak pernah lagi menyempatkan diri hanya untuk sekedar bercengkerama denganku.

Eomma yang lebih sering mengurung diri dikamar, entah dengan alasan apa.

Ada saat dimana saat,aku pulang sekolah aku melihat eomma,di dapur sedang memasak. entah kenapa aku merasa rindu dengan eomma saat itu, aku memeluknya dari belakang.tubuhku yang hanya sebatas perutnya dan lenganku yang masih pendek tak mempu benar-benar memeluknya tapi,mampu membuat tubuh eomma tegang, seakan merasa terganggu dengan tingkahku.

Lalu eomma berbalik dan tersenyum melihatku, ia membalas pelukanku, walau hanya sesaat.tiba-tiba saja, Eomma seakan menyadari sesuatu. Dan langsung melepasnya paksa. Seakan takut aku terjangkit sesuatu. Eomma segera beranjak kekamar meninggalkan-ku dengan bingung.

Semakin hari aku semakin merasa,kesepian.

Puncaknya adalah bulan agustus.

Saat ayah mendapatkan naik jabatan, penelitian ayah yang direspon oleh pemerintah. Dan ayah bilang itu adalah awal mulai dari karier-nya yang sebentar lagi akan meroket tajam. Sebagai anak yang tak terlalu paham dengan apa, yang appa kerjakan aku hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Ikut bahagia.

Makan malampun terasa lebih hangat dari biasanya. eomma memasakkan beberapa masakkan spesial untuk merayakan kesuksesan appa. Termasuk beberapa botol soju yang tersedia dimeja makan.

Saat tengah asyik menyantap hidangan, aku melihat tubuh eomma yang ambruk tak sadarkan diri. Aku menjerit. Appa beranjak menghampiri tubuh eomma, menggunjang tubuh eomma.

“Chae kyeong-ah! Appa akan membawa tubuh eomma ke dalam mobil! Kamu ambilkan kunci-nya di kamar appa,arrasseo?” tanya ayah, yang lebih seperti perintah. Appa benar-benar panik.

Aku mengangguk, segera berlari ke kamar ayah.

Dan aku takut, aku takut bahwa mungkin itulah terakhir kalinya aku melihat eomma.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Aku hanya terduduk diruang tunggu, di rumah sakit ini sesuai yang appa pinta. Dari kejauhan, aku melihat appa sedang berbicara dengan uisa-nim. Setelah uisa-nim mengakhiri pembicaraannya, raut wajah appa berubah menjadi sangat buruk, ah—ani bukan buruk tapi, tampak seperti pria frustasi.

Appa berjalan kearahku jalannya tak lagi gagah, bukan seorang pria yang penuh percaya diri. Mengartikan bahwa segala sesuatunya takkan lagi sama.

Appa duduk disampingku matanya tak menatapku sama sekali. Menatap lurus. Aku merangsek duduk dipangkuannya. Membenamkan wajahku dilehernya, aku ingin appa membaginya dengan-ku, entah bagaimana caranya.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Dua minggu setelah kejadian itu, appa baru memberitahu-ku bahwa eomma mengalami pecah pembuluh darah di otaknya dan itulah mengapa eomma, belum sadarkan diri sampai sekarang.

“ ke geoneun otteohkeyo, appa?” tanya-ku.

“begini sayang, pembuluh darah gunanya tentu saja untuk mengalirkan darah. Dan tekanan darah eomma terlalu kuat,sehingga membuat pembuluhnya menggelembung seperti balon dan pecah!” jelas appa.

Aku tau appa telah jauh,lebih baik. Walau aku tidak tahu appa,mendapatkan kekuatan itu dari mana.

“nah, sayang sekarang saatnya tidur! Besok sepulang sekolah! Kita jenguk eomma, arrasseo?”

“ne arrasseo appa!” aku mencium pipi appa. Lalu appa membawaku kedalam gendongannya. Membawaku ketempat tidur.

“saranghae!” bisik appa ditelinga-ku.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Melihat appa berbicara dengan uisa-nim, membuatku seakan mengalami dejavu. Aku takut jika ayah akan menghampiriku lagi dengan wajah yang seperti saat itu.

Lantas, apakah aku harus mendekap ayah lagi? Akankah cara itu akan tetap ampuh? Aku bahkan ragu cara yang waktu itu aku lakukan benar-benar berguna.

Aku berhenti memperhatikan mereka. Aku memfokuskan diri dan mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Segalanya akan seperti sesedia kala.

Aku merasakan kursi sebelahku hangat, aku menoleh dan mendapati appa, seperti waktu itu. Perasaan frustasi terpancar diwajahnya.

“wae keurae appa?” kali ini aku bertanya, takkan lagi diam.

“aegy-a, apakah kau lelah?”

Aku menggeleng perlahan, ragu!

Tapi Appa lantas meraihku, membawaku kedalam pangkuannya.

“apapun yang terjadi. Appa akan selalu ada disisimu!” bisik ayah, yang sebenarnya berusaha meyakinkan dirinya sekaligus diriku.

April 1996,

Seoul Korea

Seseorang menguncang tubuhku ditengah malam. Membuatku terlonjak kaget, Berusaha mendapatkan kesadaran sepenuhnya. Dan ternyata appa yang duduk disamping ranjang ditempat tidurku. Kedua tangannya memegang bahuku erat.

“chae kyeong-ah, kita harus segera kerumah sakit sekarang!” jelas ayah yang langsung mencari jaket di lemari bajuku.

“shireo!” jawabku tegas. Ayah menoleh cepat dan sekilas, aku benci rumah sakit karena aku tau apa yang akan terjadi. Setiap kali kerumah sakit aku harus menyiapkan mental yang kuat untuk menghadapinya[baca:Berita buruk].

“appa tidak menerima penolakan chae kyeong-ah!”

“ne!appa” jawabku seraya turun dari ranjang dan membasuh muka.

Appa memakaikan jaket ketubuh-ku, yang berhasil ia temukan di lemari ku. Aku melihat jam di-dinding ternyata pukul 2 dini hari.

Sudah dipastikan sesuatu yang buruk pasti terjadi.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya punya halmoni, harabeoji, ahjussi, imo, ahjumma eonni ataupun oppa apalagi dongsaeng. Dan bahkan yang lebih buruk lagi adalah kenyataan bahwa aku tidak pernah tahu mengapa, aku tidak memiliki anggota keluarga seperti teman-temanku yang lain. Dan aku benci pelajaran disekolah saat membahas masalah anggota keluarga.

Aku hanya tahu apa yang ada disekitarku chingu, appa dan eomma. Eomma, yang pergi jauh.

Yah sesampainya dirumah sakit, aku melihat tubuh eomma yang sedang di cabuti peralatannya oleh para suster.

Aku kira setelah tertidur cukup lama, eomma akan membuka mata namun ternyata aku salah besar. Ayah menurunkanku dari gendongannya, berlari mendekati ranjang eomma. Mendekap tubuh eomma yang kaku.

Aku terduduk dilantai, aku bertanya-tanya apa yang terjadi memeluk lututku sendiri, menaruh dagu-ku diatasnya. Berharap seseorang memberitahuku apa yang terjadi.

Seorang suster menghampiriku memelukku dan aku mulai menangis. Menangis tanpa tahu sebabnya

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Beberapa hari setelah kehilangan eomma segalanya dipaksakan berjalan seperti biasa. Termasuk saat aku diharuskan kembali bersekolah. walaupun aku masih ingin diam dan menangis dikamarku.

Appa semakin jarang berbicara dengan-ku, ia lebih banyak diam walau tubuhnya mendekapku erat. Memang segalanya tak selalu harus selalu terdengar. Tapi bagaimanapun juga aku masih anak-anak, bahkan aku masih butuh dongeng sebelum tidur.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

Pekarangan rumah depan-ku menjadi favorit-ku dihari minggu. Pekarangan ini masih tetap indah walau pemiliknya masih berduka. Aku selalu duduk di ayunan tengah pekarangan, walau aku hanya diam. Saat itu aku merasa segala perasaan-ku mengalir begitu saja. Tanpa perlu ku tahan atau kututupi.

“Dari semua tanaman yang ada dipekarangan ini apakah kamu tahu ada satu,tanaman bunga yang jarang orang lihat?” tiba-tiba saja hadir seorang namja asing mengajak-ku bicara perihal tanaman.

“Dandelion!” jawabku cepat.

“Huah, otteohke ara?” tanyanya terkejut.

“aku merasa dandelion adalah aku!” jawabku

“waeyo?” tanyanya lagi.

“bukan urusan-mu! Aku juga tidak mengenalmu bagaimana kau bisa masuk kemari?”

“namaku lee donghae! Aku kesini bersama appa. Namamu shin chae kyeongkan?”

Aku mengangguk cepat

“aku tahu namamu dari shin ahjussi!” lanjutnya lagi.

Lee donghae menjulurkan tangannya, ingin menjabat tanganku dan aku dengan antusias menyambut jabatan tangan ini. Sejak saat itu aku dan lee donghae berkenalan, berteman untuk selamanya.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

June, 2009

Seoul Korea

Semenjak kejadian dimana, aku menemukan sahabat masa kecilku kembali. Hidupku 90⁰ [derajat] berubah, yah walau hanya sedikit aku benar-benar bersyukur. Setidaknya aku merasakan ketulusan dari sikapnya dan itu membuatku merasa hangat.

Saat hari peringatan kematian ibuku-pun, donghae memaksa-ku untuk ikut kemakam. Yah,aneh karena sejujurnya aku,sendiri terlalu takut. Aku takut ibu marah karena selama 9 tahun,aku tak pernah datang berkunjung. Dan aku takut dengan segala kemungkinan buruk yang lain, yang bisa saja terjadi.

Tapi namja itu, dengan sifat chaebyeol yang telah mendarah daging. Memaksa-ku. Dan sampailah aku disana. Dengan membawa segala macam masakan yang aku bawakan untuk ibu dan sebotol red-wine favoritnya, bagaimana aku bisa tahu. Saat, aku dan appa tinggal di borneo, saat aku menangis rindu eomma. Appa akan menceritakan apa yang eomma sukai dan apa yang eomma benci. Jadi aku membawakan apa yang menjadi favorit eomma.

Hubunganku di kantor dengan Lee Donghae-pun lain cerita. Walau kami menjadi dekat dan tak pernah bertengkar, dan lagi-lagi akan ku katakan sifat chaebyeol-nya tetap hadir menemaninya.

Ia akan selalu menyerahkanku berbagai macam tugas yang menurutnya sulit. Ia membawaku ke dalam rapat-rapat penting, saat rapat posisiku menjadi notulis dadakan. Ketika aku tanya mengapa ia akan dengan lantang menjawab “terkadang aku sulit untuk fokus, dan bagaimanapun kamu adalah my PA” dan aku hanya bisa mengangguk.

Dan tentu saja, ada saat terkadang aku protes terutama ketika aku merasa lelah. Kemudian namja itu akan mengiming-imingku dengan lunch yang menggiurkan. tak tanggung-tanggung ia, akan mentraktir-ku di restaurant elit, harga seporsi nasi-pun sama dengan uang saku-ku selama seminggu. Tapi setelah lama berpikir apa yang-ku perjuangkan untuknya, aku rasa aku layak mendapatkan ini.

Ada kalanya pula, tubuhku jatuh sakit. Sekedar bangun dari kasurpun aku tak bisa. Namja bermarga Lee itu datang ke apartementku dengan seorang dokter. Walau aku hanya sakit demam biasa yang dengan istirahat seharian-pun aku yakin aku akan sehat sesedia kala. Dan aku merasa sedikit risih dengan sikapnya yang menjadi protektif, saat aku protes ia akan mencela dan berkata “kamu itu sahabatku! Aku sangat mengkhawatirkanmu” ia mengelus puncak kepalaku dan mengecup-nya membuat-ku terkejut. Dan membuat suasana kami jadi canggung.

Π*π*π*π*π*π*π* Π

2 thoughts on “Grow a day older together #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s